Beranda Eco-Feminism Perempuan dan Pertanian di Indonesia

Perempuan dan Pertanian di Indonesia

98
0
Perempuan dan Pertanian di Indonesia (Jagad Tani)
Perempuan dan Pertanian di Indonesia (Jagad Tani)

Aksilingkungan.id – Perempuan dan pertanian di Indonesia adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ketika kita bicara tentang pertanian, yang sering terlintas di benak banyak orang adalah sosok laki-laki yang bekerja di sawah atau ladang.

Padahal, di balik setiap proses pertanian, ada tangan-tangan kuat perempuan yang turut menanam, merawat, dan memanen hasil bumi. Perempuan memegang peran vital dalam menjaga ketahanan pangan dan menopang ekonomi keluarga, terutama di pedesaan.

Mereka bukan hanya pekerja tambahan, melainkan pelaku utama di berbagai tahap produksi pertanian. Sayangnya, kontribusi besar ini seringkali tidak mendapat pengakuan yang layak.

Peran Perempuan Petani di Indonesia

Perempuan Indonesia punya peran luar biasa di sektor pertanian, mulai dari persiapan lahan, penanaman, hingga panen.

Di banyak daerah, perempuan juga menyimpan pengetahuan lokal yang berharga seperti cara mengelola lahan secara alami, menjaga kesuburan tanah, dan memilih benih terbaik.

Kontribusi mereka tidak berhenti di sawah saja. Dalam banyak keluarga petani, perempuan juga yang mengatur hasil panen, menjual ke pasar, hingga mengelola keuangan rumah tangga. Artinya, mereka adalah penggerak ekonomi keluarga sekaligus penjaga ketahanan pangan.

Ketahanan Pangan Dimulai dari Perempuan

Keterlibatan perempuan dalam pertanian punya dampak langsung terhadap ketahanan pangan keluarga dan komunitas.

Mereka sering menjadi pengambil keputusan soal makanan yang dikonsumsi keluarga sehari-hari, dari hasil panen, cara pengolahan, hingga pola gizi anak-anak.

Bisa dibilang, perempuan dan pertanian di Indonesia adalah fondasi penting untuk membangun sistem pangan yang sehat dan berkelanjutan.

Ketika perempuan petani diberdayakan, bukan hanya hasil pertanian yang meningkat, tetapi juga kualitas hidup keluarga mereka.

Tantangan yang Masih Menghambat Perempuan Petani

Sayangnya, meskipun peran mereka begitu besar, perempuan petani masih menghadapi banyak kendala. Salah satu masalah utama adalah minimnya pengakuan terhadap kontribusi mereka. Pekerjaan perempuan sering dianggap sekadar membantu suami, bukan pekerjaan utama.

Selain itu, akses perempuan terhadap sumber daya pertanian masih sangat terbatas. Banyak perempuan yang tidak memiliki hak atas tanah, sulit mendapatkan modal usaha, atau tidak bisa mengakses pelatihan pertanian modern.

Padahal, aset dan keterampilan ini penting untuk meningkatkan produktivitas. Belum lagi persoalan diskriminasi dan kesenjangan gender yang masih kuat di masyarakat.

Struktur sosial yang patriarkal sering menempatkan perempuan dalam posisi subordinat, membuat suara mereka jarang didengar dalam pengambilan keputusan di tingkat desa atau kelompok tani.

Tak kalah berat, banyak perempuan petani juga menanggung beban ganda seperti misalnya mengurus rumah, memasak, mengasuh anak, sekaligus bekerja di ladang. Semua itu dilakukan tanpa imbalan yang setimpal.

Langkah dan Peluang untuk Memberdayakan Perempuan Petani

Meski tantangan cukup berat, ada banyak peluang untuk memperkuat posisi perempuan di sektor pertanian. Salah satunya melalui pendidikan dan pelatihan.

Dengan akses terhadap ilmu pertanian modern, perempuan bisa meningkatkan produktivitas, mengelola hasil panen lebih efisien, dan berinovasi dalam usaha pertanian mereka.

Kemudian, akses terhadap teknologi digital juga menjadi kunci penting. Platform pertanian online, aplikasi cuaca, hingga e-commerce pertanian bisa membantu perempuan menjual hasil tani secara langsung dan mendapatkan informasi pasar yang lebih luas.

Selain itu, penting juga memastikan perempuan memiliki hak kepemilikan tanah dan kesempatan yang sama dalam memperoleh bantuan modal atau kredit usaha tani. Dengan jaminan hak ini, mereka bisa lebih mandiri dan berdaya secara ekonomi.

Tak kalah penting adalah kolaborasi dan dukungan komunitas. Program seperti Kelompok Wanita Tani (KWT) dan lumbung pangan desa telah terbukti efektif dalam memperkuat jaringan perempuan petani.

Lewat komunitas seperti ini, perempuan bisa saling berbagi ilmu, pengalaman, dan dukungan moral.

Sistem Pertanian yang Adil dan Berkelanjutan

Pemberdayaan perempuan di sektor pertanian bukan hanya tentang kesetaraan gender, tapi juga tentang masa depan ketahanan pangan Indonesia.

Ketika perempuan diberi ruang untuk berkembang, seluruh sistem pertanian menjadi lebih tangguh, inovatif, dan berkelanjutan.

Dengan potensi yang mereka miliki, perempuan dapat menjadi agen perubahan, mengubah pertanian tradisional menjadi lebih produktif dan ramah lingkungan.

Karena itu, penting bagi pemerintah, lembaga, dan masyarakat untuk menciptakan kebijakan yang inklusif serta membuka lebih banyak peluang bagi perempuan petani.

Perempuan dan pertanian di Indonesia adalah fenomena sosial tentang ketangguhan, kesabaran, dan cinta terhadap bumi. Meski sering tidak terlihat, peran mereka adalah fondasi dari ketahanan pangan nasional. Sudah saatnya perempuan petani mendapatkan pengakuan, perlindungan, dan dukungan yang layak. (***)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini