Aksilingkungan.id – Banyak orang bertanya-tanya, kenapa air keran di Indonesia tidak bisa diminum langsung, padahal air tersebut berasal dari PDAM dan sudah melalui proses pengolahan?
Pertanyaan ini wajar, apalagi jika kita membandingkan dengan beberapa negara lain yang air kerannya aman diminum tanpa perlu direbus. Sayangnya, kondisi di Indonesia masih berbeda. Ada kombinasi masalah dari hulu ke hilir yang membuat air keran belum aman dikonsumsi secara langsung.
Sumber Air Baku yang Sudah Tercemar
Masalah pertama bermula dari sumber air baku. Sebagian besar air PDAM di Indonesia berasal dari sungai, waduk, dan air tanah. Banyak dari sumber air ini sudah tercemar limbah domestik, industri, dan pertanian.
Limbah rumah tangga membawa bakteri seperti E. coli, virus, dan parasit, sementara limbah industri dan pertanian dapat mengandung logam berat serta bahan kimia berbahaya.
Ketika air baku sudah tercemar sejak awal, proses pengolahan menjadi jauh lebih berat. Tidak semua instalasi pengolahan air memiliki teknologi yang cukup canggih untuk menghilangkan seluruh kontaminan tersebut hingga level air siap minum.
Proses Pengolahan Air yang Belum Merata
Air PDAM di Indonesia umumnya diolah untuk memenuhi standar air bersih, bukan air siap minum. Artinya, air tersebut aman digunakan untuk mandi, mencuci, atau memasak setelah direbus, tetapi belum tentu aman diminum langsung.
Standar air minum WHO jauh lebih ketat dibanding standar air bersih. Di banyak daerah, proses pengolahan hanya berfokus pada menjernihkan air dan membunuh sebagian mikroorganisme, tanpa memastikan bahwa seluruh bakteri, virus, atau zat kimia berbahaya benar-benar hilang.
Infrastruktur Pipa Distribusi yang Sudah Menua
Salah satu alasan utama kenapa air keran di Indonesia tidak bisa diminum langsung adalah kondisi pipa distribusi.
Banyak pipa PDAM sudah berusia puluhan tahun, berkarat, berlumut, bahkan bocor. Meski air sudah diolah di instalasi pengolahan, kualitasnya bisa kembali menurun saat mengalir melalui pipa-pipa tua ini.
Karat dan sedimen dari dalam pipa dapat larut ke dalam air. Lebih parah lagi, beberapa pipa lama berpotensi melepaskan logam berat seperti timbal dan tembaga, yang berbahaya jika dikonsumsi dalam jangka panjang.
Kontaminasi Ulang di Sepanjang Jalur Distribusi
Selain karat, pipa yang bocor memungkinkan masuknya kontaminan dari tanah sekitar, terutama saat tekanan air menurun. Bakteri, lumpur, dan zat kimia dari lingkungan bisa masuk dan mencemari air yang sebenarnya sudah diolah.
Inilah sebabnya air keran di satu wilayah bisa terlihat jernih, tetapi tetap tidak aman diminum. Kontaminasi ulang sering kali tidak terlihat secara kasat mata, namun dampaknya serius bagi kesehatan.
Sisa Klorin dan Zat Kimia Berbahaya
Untuk membunuh kuman, PDAM biasanya menambahkan klorin dalam proses pengolahan. Klorin memang efektif sebagai disinfektan, tetapi sisa klorin dapat menimbulkan rasa dan bau yang tidak sedap. Dalam kondisi tertentu, klorin juga bisa bereaksi dengan bahan organik di air dan membentuk senyawa berbahaya.
Selain itu, logam berat dari pipa seperti timbal dan arsenik tidak dapat dihilangkan hanya dengan perebusan. Jika tertelan terus-menerus, zat-zat ini dapat menumpuk di tubuh dan memicu masalah kesehatan serius.
Risiko Kesehatan Jika Minum Air Keran Mentah
Minum air keran tanpa pengolahan tambahan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Dalam jangka pendek, risiko yang paling umum adalah diare, sakit perut, tifus, dan kolera akibat bakteri seperti E. coli dan Salmonella.
Dalam jangka panjang, paparan logam berat dapat menyebabkan kerusakan ginjal, gangguan saraf, hingga meningkatkan risiko kanker. Inilah alasan mengapa air keran mentah sebaiknya tidak dikonsumsi langsung di Indonesia.
Apakah Merebus Air Keran Sudah Cukup Aman?
Merebus air keran adalah langkah dasar yang sangat dianjurkan. Dengan mendidihkan air selama 1–10 menit, sebagian besar bakteri, virus, dan parasit dapat mati. Namun, perlu diingat bahwa merebus air tidak menghilangkan logam berat atau bahan kimia berbahaya.
Karena itu, banyak orang memilih menggunakan filter air berkualitas untuk menyaring partikel dan kontaminan tertentu. Meski membantu, filter pun tidak selalu menjamin air 100% aman diminum.
Solusi Paling Aman untuk Konsumsi Harian
Dengan kondisi infrastruktur dan kualitas air saat ini, air minum kemasan atau air isi ulang yang diawasi kualitasnya masih menjadi pilihan paling aman bagi masyarakat Indonesia.
Air keran tetap berguna untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi sebaiknya tidak diminum langsung tanpa pengolahan tambahan.
Kenapa air keran di Indonesia tidak bisa diminum langsung? Jawabannya terletak pada kombinasi sumber air yang tercemar, proses pengolahan yang belum memenuhi standar air minum, serta infrastruktur pipa yang sudah tua dan berisiko mencemari ulang air.
Selama masalah-masalah ini belum teratasi secara menyeluruh, kehati-hatian dalam mengonsumsi air keran adalah langkah terbaik untuk melindungi kesehatan.(***)







