
Setiap hari, aktivitas beternak sapi di kandang komunal Kelompok Ternak Desa Jambewangi terus berjalan seperti biasa. Pakan hijauan disiapkan, sapi-sapi diberi makan pada bak beton yang berjejer memanjang, dan kandang tetap terawat dengan baik.
Namun ada satu hal yang luput dari perhatian selama bertahun-tahun, yaitu kotoran ternak yang dihasilkan setiap harinya. Selama ini, limbah tersebut hanya dibiarkan menumpuk tanpa penanganan, hingga menimbulkan bau yang mengganggu kenyamanan lingkungan sekitar kandang dan permukiman warga.
Kondisi tersebut menjadi titik tolak bagi tim dosen Poliwangi yang terdiri dari Karina, Meidayanti, S.TP., M.Si., Hendra Andiananta Pradana, S.TP., M.Si., dan Nain Ufidiyati, S.Pt., M.Pt. untuk turun langsung ke Desa Jambewangi, sebuah desa agraris di kaki Gunung Raung yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan peternakan.
Baca Juga: Poliwangi Latih Pelaku Usaha Desa Tambong Optimalkan Penggunaan Vacuum Sealer
Melimpahnya bahan baku organik berupa kotoran sapi dan sisa hasil pertanian di desa ini sesungguhnya menyimpan potensi besar apabila dikelola dengan tepat.
Atas dasar itulah, program pengabdian ini digagas dengan tujuan mengalihkan limbah yang selama ini menjadi beban lingkungan menjadi sumber energi alternatif berupa biogas, sekaligus membekali warga dengan pengetahuan pengolahan limbah yang sebelumnya belum dimiliki.

Langkah awal program dimulai dari Tim pengabdian menemui pengurus dan warga Kelompok Ternak Desa Jambewangi. Kegiatan koordinasi bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang kondisi kandang dan volume kotoran yang dihasilkan, hingga penentuan titik lahan yang paling memungkinkan untuk dibangunnya instalasi biogas.
Diskusi lapangan semacam ini penting dilakukan agar solusi yang ditawarkan benar-benar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan riil di lapangan, bukan sekadar konsep di atas kertas.

Setelah tahap koordinasi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pembangunan fasilitas instalasi digester biogas. Tahap ini menjadi bagian yang paling menantang secara fisik karena melibatkan pekerjaan lapangan seperti penggalian tanah dan pemasangan instalasi.
Baca Juga: Menjawab Kebutuhan Pasar Modern, Poliwangi Dorong Inovasi Produk Agroindustri
Seluruh proses tetap mengacu pada standar teknis agar fermentasi kotoran sapi dan limbah pertanian dapat berlangsung optimal di dalam digester. Kegiatan ini juga melibatkan dua mahasiswa Politeknik Negeri Banyuwangi, yaitu Mifta Utomo dan Mohamad Amri Alhasani.



Program ini tidak berhenti pada tahap pembangunan fisik semata. Ke depan, kelompok ternak akan terus didampingi dalam mengoperasikan instalasi, mengevaluasi hasil biogas yang diproduksi, hingga mendapatkan pelatihan pengelolaan agar pemanfaatannya dapat berlangsung secara berkelanjutan dan mandiri.
Dengan begitu, apa yang semula dianggap limbah kini perlahan bertransformasi menjadi sumber energi yang bermanfaat bagi keberlangsungan hidup masyarakat Desa Jambewangi.(***)






