Aksilingkungan.id – Yuk cari tahu sebenernya gimana sih trend thrifting bisa mendukung sustainability dan melawan fast fashion. Kali ini kita akan kupas tuntas di dalam artikel ini, termasuk bagaimana dampaknya ke perekonomian negeri, khususnya untuk industri tekstil dalam negeri.
Fenomena thrifting kini menjadi bagian dari gaya hidup baru yang bukan hanya ramah kantong, tetapi juga dianggap ramah lingkungan. Banyak orang memilih thrifting sebagai bentuk dukungan terhadap sustainability, sekaligus sebagai cara melawan budaya fast fashion yang boros sumber daya.
Namun di balik tren positif ini, ada sisi lain yang ikut muncul yaitu dampak thrifting terhadap industri tekstil nasional yang ternyata tidak kecil.
Inilah mengapa fenomena ini disebut sebagai anomali, karena punya dua sisi yang sama kuat, pro-lingkungan tapi juga memunculkan tantangan ekonomi domestik.
Thrifting sebagai Langkah Mendukung Sustainability
Dari sisi lingkungan, thrifting jelas memberikan banyak manfaat. Setiap kali seseorang membeli pakaian bekas, itu berarti satu pakaian baru tidak perlu diproduksi. Efeknya sangat terasa pada industri fashion yang dikenal salah satu penyumbang terbesar limbah tekstil dan emisi karbon dunia.
Produksi pakaian baru membutuhkan banyak air, energi, pewarna kimia, hingga bahan baku yang tidak sedikit. Dengan membeli barang bekas, kita memperpanjang umur pakaian dan mendorong ekonomi sirkular.
Praktik thrifting juga menentang budaya konsumsi berlebihan yang dipromosikan fast fashion. Alih-alih membeli pakaian baru yang hanya bertahan satu musim, thrifting mendorong kita menemukan barang-barang unik, timeless, dan kadang sangat berkualitas. Tidak heran bila generasi muda banyak yang mulai menjadikan thrifting sebagai pilihan gaya hidup.
Bagaimana Thrifting Melawan Fast Fashion?
Industri fast fashion hidup dari produksi massal dan pergantian tren super cepat. Produk diproduksi murah, dibeli cepat, lalu dibuang cepat. Thrifting menjadi “antitesis” dari siklus ini. Dengan membeli barang yang sudah ada, konsumen ikut menekan permintaan akan produksi baru. Hal ini secara tidak langsung membantu mengurangi tekanan lingkungan akibat fast fashion.
Selain itu, pakaian bekas sering memiliki nilai estetika yang unik dan tidak pasaran. Banyak orang bangga menemukan barang vintage atau edisi lama yang tidak dijual lagi di toko retail. Hal ini menjadi bentuk kritik sosial bahwa gaya tidak harus berasal dari produk baru.
Dampak Negatif Thrifting terhadap Industri Tekstil Nasional
Namun, di balik manfaat ekologinya, tren thrifting, khususnya yang melibatkan impor pakaian bekas ilegal, justru menciptakan tantangan besar bagi industri tekstil dalam negeri. Dampaknya cukup signifikan dan perlu diperhatikan.
- Persaingan Tidak Sehat dengan Produk Bekas Impor Ilegal
Banyak pakaian bekas yang beredar di pasar Indonesia masuk secara ilegal dalam jumlah besar dan dijual dengan harga sangat murah.
Harga ini sulit ditandingi oleh produk lokal yang harus mengikuti standar produksi, kualitas, dan regulasi tertentu. Akibatnya, konsumen, terutama anak muda, lebih memilih pakaian bekas karena jauh lebih terjangkau.
- Penurunan Permintaan Produk Tekstil Lokal
Dengan semakin populernya thrifting, permintaan terhadap pakaian baru buatan industri dalam negeri menurun. Konsumen merasa pakaian bekas lebih menarik dari sisi harga maupun variasi model, membuat produk lokal kehilangan sebagian pembelinya.
- Penurunan Pangsa Pasar dan Kontribusi PDB Industri Tekstil
Masuknya pakaian bekas ilegal membuat pangsa pasar industri tekstil nasional tergerus. Dalam jangka panjang, kontribusi sektor ini terhadap PDB ikut menurun.
Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi nasional pun mengalami penurunan daya saing.
- Potensi Hilangnya Lapangan Kerja
Industri tekstil adalah salah satu sektor dengan penyerapan tenaga kerja terbesar di Indonesia. Ketika permintaan turun dan industri melemah, risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) meningkat. Ini menjadi ancaman bagi jutaan pekerja yang menggantungkan hidup di sektor TPT.
- Penurunan Kinerja dan Profitabilitas Industri Tekstil Nasional
Permintaan menurun, produksi berkurang, persaingan semakin ketat, semua ini membuat kinerja industri TPT melemah. Profit menurun, investasi menurun, dan daya saing global ikut terdampak.
Upaya Pemerintah dan Peluang Perbaikan Ekosistem Fashion Lokal
Fenomena ini akhirnya mendorong pemerintah memperketat pengawasan impor pakaian bekas ilegal.
Langkah ini dilakukan bukan untuk mematikan budaya thrifting, melainkan melindungi industri tekstil lokal dari kerugian lebih besar. Pemerintah juga terus memperkuat regulasi agar thrifting tetap bisa berjalan tanpa membahayakan perekonomian nasional.
Di sisi lain, anomali thrifting ini membuka peluang baru:
- UMKM brand lokal bisa mengusung konsep sustainable fashion
Misalnya menggunakan bahan daur ulang, produksi terbatas, atau upcycle untuk meningkatkan nilai. - Brand lokal dapat beradaptasi dengan tren thrifting
Dengan meluncurkan koleksi vintage-inspired atau secondhand curated yang legal dan terkontrol. - Konsumen menjadi lebih sadar pentingnya produk lokal yang berkualitas
Tren thrifting bisa mendorong brand lokal menciptakan produk lebih tahan lama, bukan sekadar mengikuti tren cepat.
Fenomena Anomali Trifting Sebagai Upaya Mendukung Sustainability dan Melawan Fast Fashion adalah bukti bahwa konsumen kini jauh lebih kritis.
Thrifting memberikan dampak positif bagi lingkungan dan mendukung prinsip ekonomi sirkular, tetapi di sisi lain juga memunculkan tantangan terhadap industri tekstil nasional, terutama ketika melibatkan pakaian bekas impor ilegal.
Kuncinya adalah menyeimbangkan dua sisi ini, mendukung keberlanjutan, tetapi tetap menguatkan industri lokal. Jika dilakukan secara bijak, thrifting bukan hanya tren, tapi gerakan yang bisa membentuk masa depan fashion Indonesia menjadi lebih hijau sekaligus lebih kompetitif.(***)







