Beranda Pertanian Krisis Iklim Picu Krisis Pangan Dunia

Krisis Iklim Picu Krisis Pangan Dunia

63
0
Krisis Iklim Picu Krisis Pangan Dunia/Pixabay/__Marion
Krisis Iklim Picu Krisis Pangan Dunia/Pixabay/__Marion

Aksilingkungan.id Siapa sangka semangkuk nasi yang kita makan tiap hari menyimpan cerita tentang krisis global?

Tahun 2024 menjadi salah satu momen paling panas dalam sejarah, dan bukan hanya suhu udara yang memuncak seperti harga pangan, terutama beras, ikut mendidih.

Inilah potret nyata bagaimana krisis iklim dan krisis pangan saling berkaitan erat dan menciptakan efek domino di Indonesia hingga ke seluruh dunia.

Lonjakan Harga Beras di Indonesia

Dilansir dari Kompas.id, kalau dulu beras bisa didapat dengan harga sekitar Rp 11.750 per kilogram pada awal 2022, kini harganya melonjak tajam.

Di pertengahan 2024, harga rata-ratanya bahkan tembus Rp 15.350 per kg, sementara di pulau-pulau kecil seperti Nusa Tenggara Timur, harga bisa melampaui Rp 17.000 per kg.

Padahal, pemerintah sudah menambah kuota impor beras menjadi 3,6 juta ton pada 2024, tapi harga tetap sulit dikendalikan. Kenapa? Karena masalahnya bukan sekadar stok, melainkan iklim ekstrem yang membuat produksi anjlok.

Fenomena El Nino 2023–2024 menjadi biang keladi utama. Kekeringan panjang membuat sawah-sawah di pulau Jawa hingga Sulawesi kering kerontang.

Data dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat bahwa tahun 2024 adalah tahun terpanas dalam sejarah modern, dengan suhu global melampaui 1,5 derajat Celsius di atas level pra-industri.

Penelitian Siswanto dan tim dalam jurnal Plos One (2023) menunjukkan, setiap kali El Nino kuat terjadi, produksi padi di Indonesia langsung menurun drastis.

Contohnya, saat El Nino 1997/1998, produksi padi tahun berikutnya turun hingga 6 persen dibandingkan panen tahun 1996.

Kabar baiknya, produksi beras nasional tahun 2025 meningkat 14,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi Januari–Juli 2025 mencapai 21,76 juta ton, naik signifikan dari 18,93 juta ton pada 2024. Kondisi cuaca yang lebih basah menjadi penyelamat sementara.

Namun, jangan cepat lega dulu. Perubahan iklim berarti cuaca semakin tidak bisa diprediksi. Tahun ini mungkin lebih basah, tapi tahun depan bisa saja kembali kering ekstrem.

Jika El Nino datang lagi dengan kekuatan lebih besar, bukan tidak mungkin harga beras akan kembali melambung. Dengan kata lain, ketahanan pangan kita masih sangat bergantung pada cuaca.

Krisis Iklim Goncang Sistem Pangan Global

Masalah ini ternyata bukan milik Indonesia saja. Krisis iklim telah mengguncang sistem pangan global.

Penelitian Maximilian Kotz dari Barcelona Supercomputing Centre yang dimuat di Environmental Research Letters (2025) membuktikan bahwa iklim ekstrem berdampak langsung pada lonjakan harga pangan dunia.

Riset tersebut meneliti 16 peristiwa cuaca ekstrem di 18 negara antara 2022–2024, mulai dari kekeringan, banjir, hingga gelombang panas. Hasilnya, semua peristiwa itu punya efek domino terhadap harga pangan global.

Contohnya, harga beras di Indonesia naik 16 persen pada Februari 2024 akibat kekeringan. Sementara di Asia Timur, gelombang panas membuat harga kubis Korea melonjak 70 persen, beras Jepang naik 48 persen, dan sayuran di China meningkat 30 persen hanya dalam tiga bulan.

Di Amerika Serikat, kekeringan di California dan Arizona membuat harga produsen sayuran melonjak 80 persen pada akhir 2022.

Sedangkan di Eropa, kekeringan ekstrem di Spanyol memicu kenaikan harga minyak zaitun hingga 50 persen di seluruh Uni Eropa pada Januari 2024.

Pasar Global Ikut Panas

Efek krisis iklim juga terasa di pasar internasional. Ghana dan Pantai Gading, dua negara penghasil 60 persen kakao dunia, mengalami suhu tertinggi dalam sejarah pada Februari 2024.

Kekeringan panjang di sana menyebabkan harga kakao global naik 300 persen pada April 2024 yang mana merupakan lonjakan tertinggi sepanjang masa.

Skenario serupa terjadi di sektor kopi. Gelombang panas di Vietnam dan Brasil membuat pasokan kopi global menurun drastis.

Akibatnya, harga kopi internasional melonjak tajam, memberi tekanan besar bagi industri dan konsumen di seluruh dunia.

Krisis Iklim dan Krisis Pangan

Kenaikan harga beras dan pangan dunia bukan kebetulan, melainkan alarm keras bahwa krisis iklim sudah mengetuk dapur kita. Dari sawah di Jawa hingga perkebunan kakao di Afrika, dampaknya saling terhubung.

Mengatasi krisis ini butuh langkah serius, misalnya adaptasi pertanian terhadap iklim ekstrem, teknologi irigasi efisien, dan kebijakan pangan berkelanjutan yang tidak hanya mengandalkan impor.

Selain itu, pengurangan emisi karbon dan pengendalian deforestasi juga penting untuk menstabilkan iklim di jangka panjang.

Krisis iklim bukan hanya urusan para ilmuwan atau pemerintah, tapi tentang masa depan pangan, ekonomi, dan kehidupan kita semua. Karena kalau Bumi terus panas, jangan kaget kalau sepiring nasi di meja makan suatu hari nanti jadi barang mewah.(***)

Reference: Ahmad Arif. (2025, 22 Juli). Krisis Iklim, Krisis Pangan, dan Jalan Keluarnya. Kompas.id, https://www.kompas.id/artikel/krisis-iklim-krisis-pangan-dan-jalan-keluarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini