Aksilingkungan.id – Coba bayangkan langit malam yang penuh bintang, indah dan tak terhitung jumlahnya. Tapi tahukah kamu bahwa di lautan kita, jumlah mikroplastik ternyata lebih banyak dari bintang di galaksi?
Fakta ini bukan sekadar kalimat dramatis, tapi hasil dari berbagai penelitian yang menunjukkan betapa parahnya polusi laut akibat plastik. Lautan yang dulu menjadi simbol kehidupan kini perlahan berubah menjadi tempat pembuangan raksasa bagi limbah manusia.
Menurut laporan Greenmatch dan United Nations Environment Programme (UNEP), antara 75 hingga 199 juta ton plastik kini mengotori lautan dunia. Setiap tahunnya, sekitar 8 hingga 10 juta ton plastik baru masuk ke laut, artinya setiap menit, satu truk sampah plastik dibuang ke laut.
Ironisnya, sebagian besar plastik itu berasal dari daratan, terbawa aliran sungai dan sistem pembuangan sampah yang buruk. Asia, termasuk Indonesia, menyumbang sekitar 81% polusi plastik laut global.
Dari Plastik Sekali Pakai hingga Mikroplastik
Masalah utama bukan hanya plastik yang tampak mengapung di permukaan laut, tapi mikroplastik, potongan plastik berukuran kurang dari 5 milimeter yang sering tak terlihat mata.
Sumbernya bisa dari kantong plastik, botol, sedotan, kosmetik, hingga pakaian sintetis. Ketika plastik terurai akibat sinar matahari dan ombak, ia berubah menjadi partikel super kecil yang tetap ada selama ratusan tahun di lautan.
Yang bikin ngeri, mikroplastik ini sudah masuk ke rantai makanan. Penelitian menemukan bahwa 60% ikan yang kita konsumsi mengandung mikroplastik. Partikel ini juga telah terdeteksi dalam garam laut, air minum, bahkan darah manusia.
Artinya, setiap kali kita makan ikan atau seafood, ada kemungkinan kita juga ikut “menelan” plastik. Mikroplastik terbukti dapat menyebabkan gangguan hormon, kerusakan sistem saraf, bahkan meningkatkan risiko kanker.
Indonesia: Negeri Bahari yang Terancam Jadi Lautan Sampah
Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau dan garis pantai 108 ribu kilometer, Indonesia seharusnya menjadi surga laut dunia. Namun, kondisi justru berbalik: lautan kita kian sesak oleh sampah.
Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) memperkirakan pada tahun 2025, timbulan sampah nasional mencapai 50 juta ton, dan sekitar 40% di antaranya tidak terkelola, sebagian besar berakhir di laut.
Menurut World Bank (2023), Indonesia kini menjadi penyumbang sampah plastik laut terbesar kedua di dunia, setelah Tiongkok. Sekitar 16 juta ton sampah masuk ke perairan Indonesia setiap tahun.
Di musim hujan, pemandangan pantai Kuta, Legian, dan Seminyak di Bali dipenuhi kiriman sampah laut hingga mencapai 60 ton per hari. Kondisi ini bukan hanya merusak pemandangan, tapi juga memukul ekonomi pariwisata dan perikanan.
Dan dampaknya sudah nyata. Seekor paus sperma ditemukan mati di perairan Wakatobi dengan 5,9 kilogram sampah plastik di perutnya, termasuk 115 gelas plastik, 25 kantong plastik, dan bahkan sepasang sandal.
Di Bali dan Kepulauan Seribu, beberapa penyu mati setelah menelan plastik yang dikira ubur-ubur. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa polusi laut bukan sekadar isu lingkungan, tapi juga krisis kemanusiaan.
Krisis Ekosistem Laut
Mikroplastik bukan hanya menghancurkan biota laut, tapi juga merusak keseimbangan ekosistem. Laut yang tercemar kehilangan kemampuannya menyerap karbon dioksida, padahal laut menyerap lebih dari 90% panas global dan berperan besar dalam menstabilkan iklim bumi.
Akibatnya, suhu laut meningkat, menyebabkan pemutihan karang (coral bleaching) dan mengancam 75% terumbu karang dunia.
Lebih dari 3 miliar orang di dunia bergantung pada laut untuk mata pencaharian dan sumber pangan. Jika kondisi ini dibiarkan, krisis ikan, hilangnya pekerjaan, dan gangguan ekonomi pesisir akan menjadi kenyataan.
UNESCO bahkan memperingatkan bahwa pada tahun 2050, jumlah plastik di laut akan melebihi jumlah seluruh ikan di dunia.
Meski situasinya mengkhawatirkan, bukan berarti tidak ada harapan. Organisasi seperti The Ocean Cleanup telah berhasil mengangkat lebih dari 11,5 juta kilogram sampah plastik dari laut dan sungai.
Mereka menargetkan untuk menghapus 90% sampah mengambang di lautan pada tahun 2040.
Selain itu, United Nations Environment Programme (UNEP) juga meluncurkan Global Plastic Treaty pada tahun 2022, dengan misi menghentikan polusi plastik secara global sebelum 2040. Banyak negara, termasuk Indonesia, mulai menerapkan kebijakan pengurangan plastik sekali pakai dan memperkuat sistem daur ulang.
Namun, semua upaya besar itu tak akan berarti tanpa perubahan kecil dari kita. Mulai dari menolak sedotan plastik, membawa tas belanja sendiri, memilah sampah rumah tangga, hingga mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, semua itu bisa jadi langkah sederhana yang berdampak besar.
Laut bukan hanya bentangan air biru di peta, tapi juga paru-paru bumi dan sumber kehidupan manusia. Jika mikroplastik di lautan lebih banyak dari bintang, maka kini saatnya manusia berhenti menjadi “sumber gelap” di balik cahaya bintang itu.
Mari jaga laut kita, sebelum yang tersisa hanyalah lautan plastik tanpa kehidupan.(***)







