Beranda Sosok Peran Suku Anak Dalam sebagai Penjaga Hutan Rimba

Peran Suku Anak Dalam sebagai Penjaga Hutan Rimba

81
0
Peran Suku Anak Dalam sebagai Penjaga Hutan (Unews.id)
Peran Suku Anak Dalam sebagai Penjaga Hutan (Unews.id)

Aksilingkungan.id – Di tengah gempuran modernisasi dan ekspansi wilayah yang terus meluas, ada satu komunitas adat di Jambi yang masih memegang teguh kearifan leluhur mereka yaitu Suku Anak Dalam (SAD), atau yang lebih dikenal sebagai Orang Rimba.

Hidup di pedalaman hutan, mereka bukan sekadar penduduk hutan biasa, tetapi juga penjaga keseimbangan ekosistem yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Suku Anak Dalam hidup dalam harmoni dengan alam. Bagi mereka, hutan bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sumber kehidupan, ruang budaya, dan warisan spiritual.

Dari sinilah muncul peran penting mereka sebagai penjaga hutan yang sebenarnya, bukan karena tugas formal dari pemerintah, tetapi karena kesadaran dan nilai yang telah mengakar dalam budaya mereka.

Hidup Berdampingan dengan Alam

Suku Anak Dalam hidup berkelompok di hulu-hulu sungai dalam hutan Jambi, dengan konsentrasi terbesar di Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD).

Wilayah ini menjadi rumah bagi berbagai satwa liar, termasuk gajah Sumatera, dan juga menjadi ruang hidup utama bagi komunitas Orang Rimba.

Berdasarkan data dari Kementerian Dalam Negeri, jumlah Suku Anak Dalam mencapai sekitar 6.000 orang pada tahun 2021. Mereka masih mempertahankan cara hidup tradisional, tinggal di pondok sederhana yang disebut sudung dan terbuat dari pelepah sawit serta terpal plastik.

Aktivitas sehari-hari mereka sangat bergantung pada alam seperti berburu, meramu hasil hutan, dan mencari buah-buahan seperti rotan, jernang, damar, dan madu.

Meski sederhana, cara hidup ini justru membentuk hubungan yang sangat dalam antara manusia dan alam. Mereka memahami bahwa kelestarian hutan berarti keberlangsungan hidup mereka sendiri.

Kearifan Lokal dalam Menjaga Kelestarian Hutan

Salah satu bentuk nyata peran Suku Anak Dalam sebagai penjaga hutan adalah sistem pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana.

Mereka menerapkan rotasi hutan yang mana sebagian kawasan hutan dijadikan ladang sementara, dan setelah masa panen selesai, lahan tersebut dibiarkan pulih kembali menjadi rimba.

Prinsip mereka sederhana tapi bermakna ambil seperlunya, jaga sebanyak-banyaknya. Mereka hanya mengambil hasil hutan sesuai kebutuhan, tanpa berlebihan. Pendekatan ini memastikan bahwa hutan tetap bisa tumbuh kembali dan menyediakan sumber daya bagi generasi berikutnya.

Selain itu, tradisi adat mereka sarat dengan nilai konservasi. Salah satu contohnya adalah tradisi menanam satu pohon untuk setiap kelahiran anak.

Ritual ini bukan hanya simbol kelahiran kehidupan baru, tapi juga bentuk tanggung jawab terhadap alam. Setiap anak yang lahir membawa “hutang moral” kepada bumi, dan pohon itu menjadi penebusnya.

Penjaga Ekosistem dari Dalam

Hidup di dalam hutan membuat Suku Anak Dalam menjadi garda terdepan dalam menjaga ekosistem. Mereka tahu betul seluk-beluk hutan, kapan musim hewan beranak, di mana tanaman obat tumbuh, hingga tanda-tanda alam saat cuaca akan berubah.

Pengetahuan ini bukan dari buku, melainkan hasil observasi dan pengalaman panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dengan keterampilan tradisional mereka, seperti berburu secara selektif, memanen madu tanpa merusak sarang, dan menjaga sumber air, Suku Anak Dalam membantu menjaga keseimbangan alam.

Bahkan tanpa label “konservasi” atau “ekowisata”, mereka sudah menerapkan prinsip berkelanjutan jauh sebelum istilah itu populer.

Mereka juga berperan penting dalam menangkal ancaman perambahan dan penebangan liar. Banyak di antara mereka yang dengan tegas menolak aktivitas yang merusak hutan, karena tahu betul bahwa hilangnya hutan berarti hilangnya rumah dan identitas mereka.

Tantangan di Tengah Arus Modernisasi

Sayangnya, kehidupan Suku Anak Dalam kini menghadapi tantangan besar. Ekspansi perkebunan kelapa sawit, pembukaan lahan, dan pembangunan infrastruktur perlahan menggerus ruang hidup mereka.

Selain itu, minimnya layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan membuat banyak komunitas SAD terpinggirkan dari sistem sosial modern.

Namun, meski dihadapkan pada tekanan yang besar, mereka tetap berusaha mempertahankan jati diri dan tradisi leluhur. Banyak komunitas mulai beradaptasi dengan cara bijak, misalnya, belajar berinteraksi dengan dunia luar tanpa harus meninggalkan nilai-nilai budaya mereka.

Peran Suku Anak Dalam sebagai penjaga hutan bukan hanya penting bagi mereka sendiri, tapi juga bagi kita semua.

Di tengah krisis iklim global dan kerusakan alam yang semakin parah, cara hidup sederhana mereka menyimpan pelajaran berharga tentang harmoni, kesederhanaan, dan keberlanjutan.

Suku Anak Dalam mengingatkan kita bahwa menjaga alam tidak selalu membutuhkan teknologi canggih atau kebijakan besar. Kadang, cukup dengan rasa hormat, kesadaran, dan keseimbangan antara kebutuhan manusia dan alam.

Dari sistem rotasi hutan hingga tradisi menanam pohon, peran Suku Anak Dalam sebagai penjaga hutan adalah contoh nyata bagaimana budaya dan alam bisa berjalan beriringan.

Mereka bukan sekadar penghuni hutan, melainkan penjaga kehidupan yang menjaga bumi tetap hijau dengan caranya sendiri.

Di tengah derasnya arus modernisasi, keberadaan mereka menjadi pengingat penting bahwa menjaga alam bukan pilihan, tapi kewajiban, dan Suku Anak Dalam telah melakukannya jauh sebelum kita menyadarinya.(***)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini