Beranda Urban Ketika Urban Heat Island Membakar Kesehatan Mental Warga Kota

Ketika Urban Heat Island Membakar Kesehatan Mental Warga Kota

388
2
Urban Heart Island (Sumber: Freepik)
Urban Heat Island (UHI) merupakan sebuah istilah saat perkotaan memiliki suhu rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya. (Sumber: Freepik)

Aksilingkungan.id – Pernahkah kamu merasa lebih mudah emosi, cepat tersulut amarah, atau tiba-tiba dilanda kecemasan hanya karena udara terasa begitu gerah? Jika iya, itu bukan sekadar perasaanmu. Bisa saja hal itu dipicu oleh Urban Heat Island (UHI). Ternyata, semua itu ada penjelasan ilmiahnya.

Kota tempat kita tinggal benar-benar sedang “memanas” dan efeknya ternyata merambat hingga ke kesehatan mental kita. Faktanya, banyak kota besar kini berubah menjadi “pulau bahang”. Bayangkan saja, suhu udara di tengah kota bisa beberapa derajat celcius lebih tinggi dibandingkan daerah pinggiran yang masih hijau, terutama saat malam hari. Jadi, ketika kamu merasa malam tetap panas meski hujan sempat turun siang tadi, itu adalah manifestasi nyata dari fenomena ini.

UHI bukan lagi sekadar soal kenyamanan atau tagihan listrik AC yang membengkak. Di balik selimut panas yang terus menyelimuti kota, para ilmuwan menemukan sesuatu yang lebih mengkhawatirkan: panas berlebih dapat menjadi stresor lingkungan yang nyata bagi otak dan jiwa manusia. Suhu tinggi dapat mengganggu kualitas tidur, meningkatkan produksi hormon stres, dan bahkan memperbesar risiko gangguan mental seperti depresi dan kecemasan.

Di tengah perubahan iklim global dan urbanisasi yang kian pesat, UHI tak lagi menjadi isu teknis yang hanya dibahas di ruang seminar para klimatolog dan perencana kota. Ini adalah isu keseharian yang memengaruhi cara kita tidur, bekerja, berinteraksi, dan merasakan kesejahteraan di lingkungan tempat kita tinggal. Semakin panas kota, semakin berat pula beban psikologis yang harus dipikul warganya.

Apa itu Urban Heat Island?

Fenomena UHI adalah konsep yang sebenarnya cukup sederhana. Bayangkan kota seperti spons raksasa yang menyerap panas di siang hari, lalu perlahan melepaskannya saat malam tiba. Bedanya, spons ini terbuat dari beton, aspal, dan kaca—bahan yang menyimpan panas jauh lebih lama dibandingkan tanah atau pepohonan. Akibatnya, suhu udara di kawasan perkotaan tetap tinggi bahkan setelah matahari terbenam. Fenomena inilah yang dikenal sebagai UHI atau “pulau bahang perkotaan”.

Panas berlebih itu tidak datang tanpa sebab. Permukaan keras seperti jalan, trotoar, dan gedung tinggi menyerap energi matahari di siang hari dan memantulkannya kembali ke udara pada malam hari. Sementara itu, berkurangnya pepohonan dan ruang terbuka hijau membuat kota kehilangan kemampuan alaminya untuk “bernapas” dan mendinginkan diri melalui proses penguapan air dari tanah dan daun, yang dikenal sebagai evapotranspirasi.

Struktur fisik kota juga memperparah keadaan. Bentuk tata kota yang rapat dengan gedung tinggi di kedua sisi jalan membentuk “ngarai jalanan” (street canyons) yang menjebak gelombang panas yang sulit dilepaskan ke atmosfer (Estoque, et al., 2017). Selain itu, aktivitas manusia menambah beban panas. Kendaraan bermotor, pendingin udara, hingga mesin industri menghasilkan panas antropogenik yang menjadi faktor kunci dalam memburuknya lingkungan termal perkotaan. 

Sebuah studi menunjukkan bahwa panas antropogenik berkontribusi signifikan terhadap peningkatan suhu di kawasan perkotaan. Dalam kompleks padat penduduk, sistem pendingin ruangan bahkan menyumbang lebih dari 70 persen total panas buangan dari bangunan (Anthropogenic Heat Emissions from Buildings atau AHEB). Penelitian menunjukkan bahwa panas antropogenik dapat meningkatkan suhu udara perkotaan lebih dari 4°C, dan dalam kondisi ekstrem, menyumbang hingga 43 persen dari total perubahan intensitas UHI harian selama musim panas. Seiring bertambahnya kepadatan penduduk dan bangunan, akumulasi panas ini kian sulit terlepas dari ruang kota, memperkuat efek Urban Heat Island sekaligus meningkatkan konsumsi energi dan emisi karbon (Zhou, et al., 2025).

Kombinasi faktor-faktor inilah yang membuat kota bekerja layaknya “penyimpan panas raksasa.” Siang hari, panas diserap dan ditahan; sedangkan malam harinya, panas dilepaskan perlahan. Akibatnya, kota tidak pernah benar-benar sejuk. Kondisi ini bukan hanya mengganggu kenyamanan fisik, tetapi juga menekan keseimbangan psikologis warganya dan menjadi sebuah tantangan baru bagi kehidupan urban di tengah perubahan iklim.

Ketika UHI ”Membakar” Tubuh dan Pikiran

Studi empiris menunjukkan bahwa paparan panas yang berlebihan, secara fisik akan meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan, dan gangguan kardiovaskular, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan pekerja luar ruangan (International Labour Organization, 2019). Kota yang terus memanas juga menurunkan kualitas udara karena mempercepat pembentukan ozon troposferik dan polutan sekunder lain yang memperparah penyakit pernapasan (Swamy, et al., 2020).

Namun, efek yang paling sering luput diperhatikan adalah bagaimana panas kota memengaruhi kesehatan mental warganya. Paparan suhu tinggi dalam jangka panjang dapat mengganggu mekanisme fisiologis otak yang mengatur suasana hati dan respons stres. Beberapa studi menunjukkan bahwa peningkatan suhu berhubungan dengan naiknya kadar hormon kortisol dan penurunan kualitas tidur, yang kemudian dapat memicu kecemasan, mudah marah, bahkan gejala depresi (Cianconi, et al., 2020).

Lebih lanjut, keterkaitan antara panas dan psikologis ini tidak hanya bersifat individual, tetapi juga sosial. Ketika udara semakin gerah dan ruang publik kehilangan kenyamanannya, interaksi sosial warga menurun, konflik kecil lebih mudah muncul, dan produktivitas ikut terdampak. Dalam studi global, peningkatan suhu malam hari di kota-kota besar dikaitkan dengan lonjakan gangguan tidur dan kelelahan emosional yang menjadi dua faktor kunci yang menurunkan kesejahteraan subjektif atau kebahagiaan (Lawrance, et al., 2022).

Secara ringkas, UHI menekan manusia dari dua sisi: secara biologis melalui beban panas pada tubuh, dan secara psikologis melalui tekanan suhu pada stabilitas emosi dan relasi sosial. Kota yang terlalu panas bukan hanya kehilangan kesejukan fisiknya, tetapi juga kehilangan “keteduhan batin” warganya. Karena itu, merancang kota yang adaptif terhadap panas bukan lagi semata urusan teknis, melainkan juga langkah preventif untuk menjaga keseimbangan mental masyarakat urban di masa depan. 

Strategi Desain Perkotaan untuk Mengatasi UHI dan Melindungi Kesehatan Mental

Membayangkan kota yang bebas dari panas berlebih bukanlah suatu utopia. Kota yang ideal adalah kota yang ”bernapas”, di mana udara dapat mengalir, permukaan tanah tidak seluruhnya tertutup beton, dan ruang terbuka hijau hadir bukan sebagai pelengkap estetika, tetapi sebagai sistem pendingin alami yang menjaga keseimbangan ekologi dan psikologis warganya. 

Salah satu strategi utama untuk menurunkan efek Urban Heat Island (UHI) adalah meningkatkan rasio ruang terbuka hijau dan permukaan berpori di kawasan perkotaan. Pepohonan, taman kota, dan koridor hijau berfungsi layaknya paru-paru yang menukar udara panas dengan kesejukan melalui proses evapotranspirasi. Selain vegetasi, rancangan permukaan kota juga menentukan kemampuan kota beradaptasi terhadap panas. 

Penggunaan material berwarna terang dan berdaya pantul tinggi (cool roofs dan cool pavements) membantu memantulkan radiasi matahari daripada menyimpannya. Sementara itu, penerapan infrastruktur biru seperti danau buatan, kanal air, dan sistem drainase alami berperan menjaga kelembapan mikro dan sirkulasi udara kota.

Ruang publik yang teduh dan nyaman menjadi ”buffer mental” dari tekanan hidup urban. Lingkungan yang rindang terbukti mampu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan suasana hati positif. Sebuah studi di Seoul menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen responden menilai keberadaan lingkungan hijau sangat penting bagi kesehatan fisik dan mental mereka (Han & Kim, 2019). 

Lebih jauh lagi, desain kota yang ramah terhadap kesehatan mental dapat diwujudkan melalui prinsip biophilic urbanism, yaitu integrasi antara unsur alam dalam arsitektur dan ruang publik. Fasad hijau, taman atap, hingga dinding vertikal bervegetasi bukan hanya memperindah kota, tapi juga berperan sebagai “penyejuk psikologis”. Di kota-kota besar seperti Singapura, Seoul, dan Melbourne, pendekatan ini terbukti menurunkan stres warga sekaligus meningkatkan kenyamanan termal kawasan.

Fenomena UHI bukanlah takdir yang harus diterima oleh kota modern, melainkan konsekuensi dari cara kita merancang dan mengelola ruang hidup. Artinya, fenomena ini dapat dikendalikan asalkan ada kemauan kolektif untuk menyeimbangkan kembali hubungan antara lingkungan alami dengan aktivitas perkotaan.

Pustaka:

Cianconi, P., Betro, S. & Janiri, L., 2020. The Impact of Climate Change on Mental Health: A Systematic Descriptive Review. Frontiers in Psychiatry, 11(74), pp. 1-15.

Estoque, R. C., Murayama, Y. & Myint, S. W., 2017. Effects of landscape composition and pattern on land surface temperature: An urban heat island study in the megacities of Southeast Asia. Sci. Total Environ, Volume 577, pp. 349-359.

Han, M. J. N. & Kim, M. J., 2019. Green Environments and Happiness Level in Housing Areas toward a Sustainable Life. sustainability, pp. 1-18.

International Labour Organization, 2019. Working on a warmer planet: The Immpact of heat stress on labour productivity and decent work. Geneva: ILO.

Lawrance, E. L. et al., 2022. The Impact of Climate Change on Mental Health and Emotional Wellbeing: A Narrative Review of Current Evidence, and its Implications. Taylor & Francis, 34(5), pp. 443-498.

Swamy, G., Nagendra, S. M. & Uwe, S., 2020. Impact of urban heat island on meteorology and air quality at microenvironment. Taylor & Francis, 70(9), pp. 876-891.

Zhou, X. et al., 2025. How does anthropogenic heat emissions from buildings affect urban heat island intensity? Based on neighborhood scale and urban scale analysis. Urban Climate, Volume 62.

Penulis: Renaldi Manurung

Editor: Irman Lukmana

Renaldi Manurung merupakan perencana kota dan penulis. Aktif menyuarakan isu-isu perkotaan terkait perubahan iklim dan kelompok marjinal.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini