
Aksilingkungan.id – Kita hidup di zaman ketika bumi diperlakukan seperti startup yang harus terus “tumbuh” dan menghasilkan biar dianggap berhasil. Masalahnya, bumi bukan perusahaan rintisan yang bisa di-pitching ke investor. Bumi adalah rumah yang sudah mulai retak atapnya, bocor dindingnya, tapi masih harus diekspansi terus-menerus.
Kapitalisme modern suka menjual mimpi besar seperti pertumbuhan, inovasi, kemajuan dan hal-hal manis yang mendengarnya saja sudah misofonia.
Tapi di balik kata-kata manis itu, ada paradoks yang makin sulit disembunyikan: bumi makin gerah, hutan makin gundul, dan kita sebagai manusia semakin merasakan burnout hidup dalam mode survival. Kalau ini namanya “kemajuan”, mungkin kita sedang melaju ke jurang, tapi sambil update story bertagar #SustainableLiving.
Kapitalisme Hijau: Solusi Semu untuk Krisis yang Nyata
Kita hidup di masa ketika bumi memanas, hutan kehilangan nafasnya, dan udara perlahan berubah menjadi racun bagi kehidupan. Namun semua itu dibungkus rapi dengan label “inovasi” dan “kemajuan”. Kapitalisme hari ini sedang memakai topeng hijau, dari mobil listrik buatan korporasi raksasa hingga kampanye “net-zero emission” berbentuk narasi untuk menutupi kenyataan pahit bahwa ekonomi global masih digerakkan oleh logika akumulasi, bukan keberlanjutan.
Di balik jargon pembangunan berkelanjutan, kapitalisme tetap menguras sumber daya alam dan tenaga manusia untuk pertumbuhan tanpa batas. Krisis iklim hanyalah gejala dari sistem yang menolak berhenti menumbuh, padahal bumi punya batas, tapi kapitalisme enggan mengindahkannya. Inilah paradoks yang melahirkan gagasan tandingan, yakni ekososialisme.
Apa Itu Ekososialisme?
Ekososialisme adalah upaya menyatukan keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis. Jika sosialisme klasik menekankan pemerataan ekonomi, maka ekososialisme menambahkan kesadaran bahwa ekonomi harus tunduk pada batas alam.
Sistem ini bukan anti terhadap produksi dan uang. Ekososialisme menolak produksi yang serakah dan bersifat menghancurkan. Menghancurkan hutan demi sawit, atau menambang nikel dengan mengorbankan laut. Bagi ekososialisme, ekonomi dapat berjalan selaras dengan detak jantung yang sama dengan bumi.
Alih-alih mengejar pertumbuhan tanpa henti, ekososialisme menekankan kecukupan, solidaritas, dan keseimbangan. Produksi diarahkan untuk memenuhi kebutuhan sosial bukan hanya memperkaya segelintir elit. Dalam sistem ini, energi dikelola komunitas, pangan dihasilkan secara organik, dan transportasi publik menjadi prioritas. Bukan hanya demi lingkungan, tapi demi martabat manusia.
Masih ada keyakinan bahwa kapitalisme bisa berubah arah hanya dengan menempelkan label ”hijau.” Namun, seperti yang dikatakan John Bellamy Foster, pemikir ekososialis terkemuka, kapitalisme dan ekologi hidup dalam kontradiksi permanen. Sistem yang bergantung pada ekspansi dan akumulasi modal tidak mungkin benar-benar ramah lingkungan, karena ia hanya hidup dari konsumsi yang terus tumbuh.
“Green capitalism” hanyalah fatamorgana, yang mana saat korporasi menanam sejuta pohon, mereka juga menebang sepuluh juta hektar hutan di tempat lain. Saat mereka menjual sertifikat karbon, yang sebenarnya mereka jual adalah hak untuk terus mencemari. Kita tidak bisa menyelamatkan bumi dengan alat yang selama ini menghancurkannya. Ekososialisme hadir bukan untuk menambal sistem lama, melainkan untuk menggantinya dengan sistem ekonomi yang berorientasi pada kehidupan, bukan laba.
Mungkinkah Indonesia Menerapkan Ekososialisme?
Jawabannya: mungkin sekali. Bahkan, nilai-nilai dasarnya sudah hidup di masyarakat kita jauh sebelum istilah “ekososialisme” populer di Barat. Lihatlah subak di Bali dengan sistem pengelolaan air yang demokratis dan berkelanjutan, atau hutan adat di Kalimantan dan Papua, yang dijaga dengan prinsip keseimbangan antara manusia dan alam yang merupakan contoh ekososialisme dalam praktik lokal.
Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, tetapi juga luka ekologis yang dalam. Pertambangan nikel, tambang emas, dan perkebunan sawit sering kali memiskinkan warga sekitar dan merusak lingkungan. Semua demi ekspor dan pertumbuhan ekonomi di atas kertas. Sementara itu, rakyat kecil menanggung asap, banjir, dan tanah longsor atas harga dari pembangunan yang tidak adil.
Ekososialisme menawarkan cara berpikir berbeda: ekonomi yang berbasis komunitas, demokratis, dan berkeadilan ekologis. Misalnya, dengan mengalihkan subsidi energi fosil ke energi terbarukan berbasis komunitas, mendorong koperasi hijau dan ekonomi sirkular di sektor pertanian dan industri kecil, mengakui dan melindungi hak kelola masyarakat adat atas hutan dan tanahnya, mengganti indikator pembangunan dari sekadar GDP menjadi indeks kesejahteraan ekologis.
Langkah-langkah ini bukan sebatas utopia, melainkan gerakan lokal yang nyata; dari petani muda di Jawa Timur yang menanam tanpa pestisida hingga komunitas energi surya di Sulawesi yang dikelola warga sendiri. Semua membuktikan bahwa ekonomi bisa berjalan tanpa merusak bumi.
Namun, untuk benar-benar beralih ke arah ekososialis, dibutuhkan keberanian politik. Pemerintah harus berani menantang kepentingan oligarki ekonomi-korporasi tambang, sawit, dan energi fosil yang selama ini menjadi penopang sistem kapitalisme ekstraktif. Kebijakan yang berpihak pada rakyat dan lingkungan sering kali terhenti di level wacana karena kekuatan modal jauh lebih dominan dalam proses pengambilan keputusan.
Ekososialisme bukan sekadar solusi teknis; ia adalah gerakan moral dan politik. Ia mengajak kita untuk menata ulang hubungan antara manusia, negara, dan alam. Guna menolak logika pertumbuhan tanpa batas, dan menggantinya dengan logika kehidupan tanpa kehancuran.
Gen Z jadi Bagian dari Solusi!
Generasi muda Indonesia terutama Gen Z memiliki posisi strategis dalam gerakan ini. Mereka tumbuh di tengah krisis iklim, namun juga paling sadar bahwa masa depan tidak bisa ditukar dengan pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Lewat gaya hidup sadar lingkungan, komunitas hijau, dan aktivisme digital, Gen Z mulai menggugat sistem yang menormalisasi kerusakan.
Ekososialisme bukan hanya ide politik kiri; ia adalah tindakan sehari-hari yang menolak konsumsi berlebihan, mendukung produksi lokal, dan memperjuangkan kebijakan publik yang berkeadilan ekologis. Dalam bahasa sederhana: ekonomi harus melayani kehidupan, bukan menghancurkannya.
Krisis iklim bukan takdir, melainkan hasil dari pilihan ekonomi dan politik yang salah arah. Kita tidak sedang kekurangan solusi, kita kekurangan keberanian untuk berubah. Ekososialisme mengingatkan kita bahwa masih ada jalan yakni sistem ekonomi yang tetap produktif, tapi berakar pada solidaritas dan keberlanjutan.
Kita masih bisa bekerja, berinovasi, dan mencipta nilai tanpa menambah penderitaan planet ini. Selama laba tetap menjadi “tuhan”, bumi akan terus menjadi korban.
Tugas kita, terutama generasi muda Indonesia, adalah membalikkan logika itu dengan menjadikan ekonomi alat untuk kehidupan, bukan mesin kehancuran.






