
Aksilingkungan.id – Pasca era revolusi hijau, kita dihadapkan pada sebuah pisau bermata dua. Di satu sisi, produksi kita di bidang pertanian tinggi, meski di sisi lain kita kehilangan berbagai galur “lokal”.
Era industrialisasi pertanian khususnya pada sektor benih menghilangkan kebiasaan petani. Jika dulu petani kita kerap menggunakan benih lokal sebagai sarana produksinya, sekarang mereka dituntut untuk membeli benih pabrikan atau biasa kita sebut “hibrida”.
Karena itu, penting bagi kita untuk kembali mempraktikkan pemuliaan tanaman lokal.
Menanam Pengetahuan, Menuai Kesadaran
Di tengah tantangan perubahan iklim dan menurunnya kesuburan lahan, upaya menjaga ketahanan pangan tak bisa lagi hanya berfokus pada peningkatan produksi. Kita perlu kembali memanfaatkan sumber daya genetik lokal yang selama ini menjadi bagian dari identitas pertanian Indonesia.
Kesadaran inilah yang melandasi pelaksanaan Project-Based Learning (PjBL) pada Program Studi Teknologi Produksi Tanaman Pangan, Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi), khususnya pada mata kuliah Pemuliaan Tanaman.
Bersama mahasiswa dan dengan dukungan PT. Sirtanio Organik Indonesia, kegiatan ini membawa proses belajar langsung ke lahan pertanian organik. Melalui kolaborasi, mahasiswa belajar langsung di lahan pertanian organik tentang bagaimana pemuliaan tanaman lokal dapat diterapkan sebagai langkah nyata menuju pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Belajar dari Lahan, Bukan Hanya dari Buku
PT. Sirtanio Organik Indonesia dikenal sebagai pionir pertanian organik di Banyuwangi yang lahir dari komunitas petani lokal. Perusahaan ini mengembangkan beras organik unggulan dengan prinsip ekologi, ekonomi, dan sosial yang berimbang.
Mereka juga mempraktikkan budidaya tanpa input kimia, menjaga keseimbangan ekosistem, dan memberdayakan petani. Hal tersebut sesuai dengan misinya “mengangkat kesejahteraan petani lokal melalui praktik pertanian berkelanjutan, sambil menyediakan beras berkualitas tinggi yang menyehatkan konsumen global”.
Saya sendiri melihat secara langsung bagaimana antusiasme mahasiswa ketika mereka turun langsung ke lahan. Mereka terlibat aktif dalam mengamati karakter beberapa varietas padi lokal, mencatat ciri morfologi, melakukan seleksi tanaman, hingga mempraktikkan teknik polinasi baik secara selfing maupun hibridisasi.
Kesadaran ini yang rasanya perlu dipupuk ke generasi selanjutnya. Sehingga pemuliaan tanaman lokal bisa menjadi sebuah upaya menuju pertanian berkelanjutan.
Menjaga Warisan Genetik Nusantara
Salah satu fokus utama kegiatan pemuliaan tanaman lokal adalah mengenalkan kembali pentingnya pelestarian plasma nutfah lokal. Banyuwangi menyimpan banyak varietas padi dan tanaman pangan lokal yang memiliki keunggulan adaptif terhadap lingkungan setempat, misal varietas A3.
Sayangnya, sebagian mulai terpinggirkan akibat dominasi varietas hibrida komersial. Hal ini menjadi sebuah kerugian besar, karena petani akan terus tergantung terhadap berbagai jenis varietas hibrida komersial. Akibatnya ongkos produksi akan semakin meningkat.
Melalui kegiatan PjBL, mahasiswa melakukan dokumentasi dan karakterisasi varietas lokal. Data yang dikumpulkan kemudian digunakan sebagai bahan riset lebih lanjut.
Langkah sederhana ini merupakan wujud nyata aksi lingkungan di bidang pertanian; melindungi keanekaragaman genetik yang menjadi fondasi ketahanan pangan nasional. *

Erlin Susilowati, S.P., M.Biotek. merupakan dosen Politeknik Negeri Banyuwangi yang aktif meneliti bioteknologi pertanian dan pengembangan tanaman pangan lokal.






