
Aksilingkungan.id – Dunia agroindustri kini menghadapi tantangan besar untuk beradaptasi dengan dinamika pasar modern yang terus berubah. Produk hasil pertanian tidak lagi cukup hanya fungsional, tetapi juga harus memiliki nilai tambah dari sisi mutu, kemasan, efisiensi distribusi, hingga keberlanjutan lingkungan.
Menjawab tantangan tersebut, Program Studi D4 Pengembangan Produk Agroindustri, Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) menggelar Kuliah Tamu bertajuk “Strategi Pengembangan Produk Agroindustri dalam Menjawab Kebutuhan Pasar Modern.”
Kegiatan yang berlangsung di kampus Poliwangi ini menghadirkan dua narasumber praktisi industri, yakni Pungky Andri Sulistio Utomo, S.TP., Kepala Seksi Pengembangan Usaha dan Produk PT Mitratani Dua Tujuh, serta Moh. Izmaul Haqqi, S.TP., M.M., Direktur Produksi, Pemasaran, dan Pengembangan Perumda Perkebunan Kahyangan, Jember.
Keduanya berbagi pengalaman tentang bagaimana produk agroindustri lokal dapat dikembangkan agar mampu bersaing di pasar modern, baik domestik maupun ekspor.
Kolaborasi Akademik dan Industri: Kunci Pengembangan Inovasi
Dalam sambutannya, perwakilan Program Studi D4 Pengembangan Produk Agroindustri menegaskan pentingnya sinergi antara dunia akademik dan industri. Mahasiswa, kata dia, harus memahami bahwa keberhasilan produk tidak hanya bergantung pada teknologi produksi, tetapi juga pada strategi pengembangan yang relevan dengan kebutuhan pasar.
Pungky Andri menekankan pentingnya riset pasar dan inovasi berbasis data. PT Mitratani Dua Tujuh, yang dikenal sebagai produsen sayuran beku (frozen vegetable) untuk ekspor, menerapkan strategi Market Driven Innovation. Sehingga, inovasi selalu berangkat dari analisis tren dan perilaku konsumen global.
“Produk yang baik bukan hanya yang bisa kita buat, tetapi yang dibutuhkan pasar. Itu sebabnya inovasi harus berbasis data dan umpan balik konsumen,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya standar mutu dan keamanan pangan (food safety) untuk menjawab tuntutan pasar modern seperti supermarket, retail chain, hingga ekspor yang memiliki regulasi ketat terkait traceability.
Branding Produk Lokal, Cerita yang Menjual
Sementara itu, Moh. Izmaul Haqqi dari Perumda Perkebunan Kahyangan menyoroti pentingnya branding dan storytelling dalam meningkatkan daya saing produk lokal.
Menurutnya, pasar modern saat ini tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli cerita di balik produk, tentang asal-usul, keberlanjutan, dan dampak sosialnya.
“Nilai lokal, keberlanjutan, dan inovasi bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen urban,” ujarnya.
Perumda Kahyangan sendiri telah mengembangkan berbagai produk turunan seperti kopi, gula semut, dan olahan herbal dengan pendekatan integrasi hulu-hilir. Para petani dilibatkan langsung dalam rantai pasok untuk meningkatkan nilai tambah di tingkat lokal.
Kegiatan ini membuka wawasan mahasiswa bahwa pengembangan produk agroindustri bukan hanya soal proses produksi, tetapi juga riset pasar, desain kemasan, strategi distribusi, dan branding yang adaptif terhadap tren konsumen.
Menyiapkan SDM Agroindustri Tangguh dan Responsif terhadap Pasar
Sebagai lembaga pendidikan vokasi, Poliwangi berkomitmen mencetak lulusan yang siap bersaing di dunia industri. Melalui kegiatan kuliah tamu ini, mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung dari praktisi mengenai bagaimana ide produk dapat dikembangkan menjadi inovasi komersial yang bernilai.
Dosen pengampu mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk Agroindustri menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari pembelajaran berbasis industri (industry-based learning).
Selain memperkuat kompetensi mahasiswa, kegiatan ini juga mempererat kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri lokal di wilayah Tapal Kuda. Sinergi tersebut diharapkan mempercepat terbentuknya ekosistem agroindustri yang tangguh dan berkelanjutan.
Langkah Konkret Menuju Agroindustri Berorientasi Pasar
Kuliah tamu ini menjadi langkah nyata Prodi D4 Pengembangan Produk Agroindustri Poliwangi dalam mewujudkan visi sebagai pusat unggulan pendidikan vokasi di bidang agroindustri yang berorientasi pasar.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan semakin memahami bahwa keberhasilan produk tidak hanya ditentukan oleh kualitas bahan baku, tetapi juga oleh strategi pengembangan, inovasi, dan kemampuan membaca tren pasar.
Poliwangi terus berkomitmen mencetak generasi muda agroindustri yang kreatif, inovatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman, serta siap menjawab tantangan pasar modern yang semakin kompetitif. *






