Aksilingkungan.id — Komunitas Nayo Dolan Tuban dan Yayasan Bakau.mu gelar kegiatan Pahlawan Pantai di Pantai Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, pada Minggu (09/11/2025) terasa berbeda.
Kegiatan Pahlawan Pantai digelar dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Nasional (10 November) dan sekaligus untuk memperingati World Tree Day (21 November).
Melalui momentum ini, para penyelenggara ingin menanamkan pesan bahwa kepahlawanan masa kini bisa diwujudkan lewat aksi nyata menjaga lingkungan.
“Menjadi pahlawan tidak harus berperang. Menanam pohon dan menjaga pantai juga bentuk perjuangan untuk masa depan,” ujar Rendy Zulfarino, selaku penyelenggara sekaligus pendamping lapangan Bakau.mu Tuban, saat diwawancara.
Menariknya, kegiatan ini tak muncul begitu saja. Tim Komunitas Nayo Dolan, yang dikenal dengan jargon khasnya “Bermain bukan hanya untuk anak-anak!”, memulai persiapan dengan riset melalui Google Form yang disebar lewat Instagram dan media sosial lainnya.
Tujuannya adalah mengetahui seberapa besar minat masyarakat Tuban terhadap kegiatan pelestarian lingkungan.
Peserta yang ikut pun datang dari berbagai latar belakang, ada desainer, guru, karyawan pabrik, hingga content creator. Semuanya tergabung karena satu visi, yaitu ingin berbuat nyata untuk alam.
Dalam proses persiapannya, Rendy Zulfarino bertindak sebagai tim pendamping lapangan dari Bakau.mu Tuban berkolaborasi dengan dari tim Nayo Dolan yakni Mbak Dinar, Mbak Fiya dan Mas Pris mengatur jalannya kegiatan mulai dari konsep hingga pembagian jobdesk.
Proses persiapan ini memakan waktu sekitar dua hingga tiga minggu, melibatkan diskusi intens dan koordinasi antar tim.

Edukasi Lingkungan Jadi Awal Kegiatan
Acara dimulai pukul 06.00 pagi dengan sesi registrasi peserta yang menerima paket berisi snack, sarung tangan, dan gantungan kunci. Sekitar pukul 06.15, para peserta dikumpulkan untuk mengikuti briefing dan edukasi lingkungan.
Dalam sesi tersebut, tim Bakau.mu menjelaskan tentang fungsi penting cemara laut di wilayah pesisir sebagai penahan abrasi, pelindung ekosistem pantai, serta penyaring alami angin laut. Selain itu, peserta juga mendapat penjelasan tentang dampak polusi dan pentingnya menjaga laut tetap bersih.
Menurut Mbak Dinar, salah satu tim Nayo Dolan, edukasi ini menjadi bagian penting dari kegiatan karena banyak masyarakat yang belum memahami peran tumbuhan pesisir.
“Kami ingin peserta tahu bahwa setiap pohon cemara laut yang ditanam hari ini akan jadi pelindung pantai di masa depan. Bukan hanya simbol, tapi tindakan nyata,” ujarnya.
Bersih Pantai dan Petisi Cinta Lingkungan
Setelah sesi edukasi, peserta diajak melihat bibit cemara laut yang sudah disiapkan, kemudian melakukan aksi bersih pantai selama sekitar satu jam. Peserta diajak memungut berbagai jenis sampah, mulai dari plastik, botol, hingga sisa jaring nelayan.
Usai bersih-bersih, para peserta menandatangani petisi komitmen menjaga lingkungan pesisir. Petisi ini berisi ajakan untuk tidak membuang sampah sembarangan, mendukung kegiatan konservasi laut, dan menjaga kebersihan pantai.
Penanaman 100 Bibit Cemara Laut
Kegiatan berlanjut dengan penanaman 100 bibit cemara laut di area pesisir Gesikharjo. Bibit ditanam dengan jarak sekitar satu meter agar dapat tumbuh optimal dan memperkuat garis pantai dari ancaman abrasi.
Peserta terlihat antusias menanam sambil berfoto, bercanda, dan saling membantu. Suasana hangat itu mencerminkan semangat kolaboratif antara komunitas, lembaga, dan masyarakat.
Setelah menanam, para peserta mengikuti kegiatan “Pohon Harapan”, di mana mereka menuliskan doa atau pesan lingkungan di kertas organik yang diikat dengan tali rami, lalu digantung di pohon cemara dewasa.
Peran Bakau.mu dalam Konservasi Pantai Tuban
Sebagai lembaga yang aktif dalam program konservasi wilayah pesisir, Yayasan Bakau.mu memiliki peran besar dalam keberlangsungan kegiatan ini.
Organisasi ini tidak hanya mendukung acara “Pahlawan Pantai,” tetapi juga menjalankan berbagai program jangka panjang di Tuban, seperti rehabilitasi mangrove, pemetaan area pesisir, serta pemberdayaan masyarakat pesisir agar lebih peduli terhadap lingkungan.
“Kami ingin menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga pantai bukan hanya tugas nelayan atau pemerintah, tapi tanggung jawab kita semua,” jelas Rendy Zulfarino.
Ia menambahkan bahwa Bakau.mu akan terus menggandeng komunitas lokal, termasuk Nayo Dolan, untuk memperluas kegiatan konservasi di wilayah pesisir utara Jawa.
Sebagai penutup kegiatan, peserta diajak naik perahu mengelilingi laut utara Tuban. Kegiatan ini menjadi simbol bahwa setelah beraksi di darat, kini saatnya melihat langsung wilayah yang mereka jaga.
Melalui aksi ini, Komunitas Nayo Dolan dan Yayasan Bakau.mu membuktikan bahwa semangat kepahlawanan tidak harus ditunjukkan dengan senjata, tapi bisa diwujudkan dengan menanam pohon, membersihkan sampah, dan menjaga bumi agar tetap lestari.(***)







