Beranda Pertanian Bagaimana Water stress Meningkatkan Produksi Buah Rambutan

Bagaimana Water stress Meningkatkan Produksi Buah Rambutan

72
0
Bagaimana Water stress Meningkatkan Produksi Buah Rambutan (Kompas.com)
Bagaimana Water stress Meningkatkan Produksi Buah Rambutan (Kompas.com)

Aksilingkungan.id – Kalau biasanya kita menganggap stres itu hal buruk, rambutan justru punya cerita lain. Tanaman satu ini ternyata bisa memanfaatkan tekanan, dalam hal ini kekeringan atau water stress, untuk menghasilkan buah yang lebih banyak, lebih besar, dan lebih berkualitas. Lucu juga ya, kadang tanaman bisa jauh lebih bijak dari manusia.

Nah, biar nggak penasaran, yuk kita bahas bagaimana water stress dalam produksi buah rambutan bekerja, tapi dengan bahasa yang santai dan gampang dicerna.

Bagaimana Water stress Meningkatkan Produksi Buah Rambutan?

Water stress sebenarnya bukan perlakuan menyiksa tanaman, tapi lebih seperti “diet air” sementara.

Pohon rambutan sengaja dibiarkan kekurangan air selama sekitar dua bulan sampai mencapai titik layu sementara, tenang, ini bukan sampai mati kok, cuma sampai batas tanaman mulai ‘ngasih kode’.

Di fase ini, rambutan otomatis berhenti tumbuh daun baru. Tanaman seperti masuk mode hemat energi, fokus pada hal-hal penting saja. Dan ternyata, “hal penting” itu adalah mempersiapkan diri untuk berbunga.

Kok bisa gitu?

Karena saat kekurangan air, hormon dalam tanaman berubah. Produksi gibberellin, hormon yang biasanya menghambat pembungaan, menurun. Sebaliknya, hormon sitokinin yang memicu pembentukan bunga naik. Ini membuat tanaman siap untuk masuk fase reproduksi.

Setelah masa kekeringan selesai dan tanaman kembali disiram atau kena hujan, yang terjadi bukan drama atau keluhan, tetapi… boom! pembungaan besar-besaran.

Data penelitian Joo-Pérez et al. (2017) menunjukkan hasil gila:

  • Tanaman rambutan dengan water stress bisa berbunga 95–98%.
  • Tanaman yang disiram terus? Cuma 36–52%.

Bedanya jauh banget kan?

Rambutan benar-benar memanfaatkan masa kekeringan untuk “membangun” tunas bunga, lalu mekar serempak saat kondisi air kembali normal. Hasilnya, proses pembungaan jadi lebih teratur dan efisien.

Kualitas Buahnya Juga Ikut Naik Drastis

Water stress bukan cuma bikin pohon berbunga banyak, tapi juga bikin buahnya jadi lebih berkualitas.

Setelah pembungaan selesai dan air kembali tersedia, rambutan menggunakan cadangan energi yang sebelumnya disimpan selama masa stres buat mengembangkan buah.

Hasilnya?

  • Buahnya lebih besar
  • Daging buah (aril) lebih tebal
  • Berat buah meningkat
  • Tandan buah lebih berat dan padat

Dalam penelitian tersebut kita bisa tahu kalau rambutan dengan water stress punya berat buah sekitar 38 gram, sedangkan tanaman yang disiram terus cuma sekitar 31 gram. Itu bedanya lumayan banget kalau di skala panen.

Water stress Juga Mengatasi Masalah “Tahun On-Off”

Rambutan punya satu masalah klasik, yakni produksi yang naik-turun tiap tahun. Tahun ini banyak, tahun berikutnya sedikit, mirip suasana hati yang nggak stabil.

Tapi ternyata, water stress bisa membantu meratakan produksi ini. Tanaman yang mengalami kekeringan terkontrol justru punya pembungaan yang stabil selama dua tahun berturut-turut. Tidak ada lagi panen yang tiba-tiba turun drastis.

Apakah Water stress Aman untuk Pohon?

Aman banget, asal dilakukan dengan benar. Water stress dalam konteks penelitian bukan berarti tanaman dibiarkan mati kehausan. Kekeringan dilakukan sampai batas aman (titik layu sementara), lalu pohon disiram lagi agar bisa pulih.

Teknik seperti ini juga sudah lama dipakai pada tanaman lain seperti jeruk, mangga, dan kopi. Jadi rambutan bukan satu-satunya yang “hebat di bawah tekanan”.

Setelah tahu cara rambutan merespons water stress, kita bisa melihat bahwa:

  • Kekeringan terkontrol justru memicu pembungaan lebih tinggi
  • Buah rambutan jadi lebih besar, lebih manis, dan lebih berat
  • Produksi jadi lebih konsisten dari tahun ke tahun
  • Tanaman tetap aman dan sehat

Yang menarik, tanaman tropis ini mengajarkan bahwa stres bukan akhir dari dunia. Kalau dikelola dengan baik, stres malah bisa jadi momentum untuk berkembang dan menghasilkan sesuatu yang lebih besar.

Jadi, bagaimana water stress dalam produksi buah rambutan bekerja?

Jawabannya sederhana. Rambutan memilih untuk bertahan, adaptif, dan akhirnya memberikan yang terbaik setelah melewati tekanan.

Coba bayangkan kalau manusia bisa meniru pola ini, hidup mungkin akan terasa lebih ringan.(***)

Reference:
Muhamed, S., Kurien, S. (2018). Phenophases of Rambutan (Nephelium lappaceum L.) Based on Extented BBCH-Scale for Kerala, India. Current Plant Biology, 13, 37-44. https://doi.org/10.1016/j.cpb.2017.10.001
Joo-Pérez, R., Avendaño-Arrazate, C.H., Sandoval-Esquivez, A., Espinoza-Zaragoza, S., Alonso-Báez, M., Moreno-Martínez, J.L., Ariza-Flores, R. and Morales-Nieto, C.R. (2017) Alternancy Study on Rambutan (Nephelium lappaceum L.) Tree in Mexico. American Journal of Plant Sciences, 8, 40-52. http://dx.doi.org/10.4236/ajps.2017.81004

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini