Beranda Pertanian Bagaimana Dampak La Nina Terhadap Pertanian Indonesia 2026?

Bagaimana Dampak La Nina Terhadap Pertanian Indonesia 2026?

78
0
Dampak La Nina Terhadap Pertanian Indonesia 2026 (kompas.com)
Dampak La Nina Terhadap Pertanian Indonesia 2026 (kompas.com)

Aksilingkungan.id – Fenomena La Nina diprediksi kembali muncul pada awal tahun 2026, dan seperti biasa, kabar ini membawa dua sisi mata uang bagi sektor pertanian Indonesia. Di satu sisi, curah hujan yang tinggi bisa menjadi berkah karena membantu percepatan musim tanam.

Namun di sisi lain, hujan ekstrem juga berpotensi menimbulkan ancaman serius seperti banjir dan longsor yang dapat merusak lahan dan hasil panen. Dengan karakteristik iklim Indonesia yang sensitif terhadap anomali laut Pasifik, memahami Dampak La Nina Terhadap Pertanian Indonesia 2026 menjadi sangat penting, terutama bagi petani dan pengambil kebijakan.

La Nina 2026, Apa yang Membuatnya Berbeda?

Menurut prediksi BMKG, La Nina berpeluang bertahan hingga Januari–Maret 2026 sebelum perlahan kembali ke kondisi netral. Inti dari fenomena La Nina adalah pendinginan suhu permukaan laut di Pasifik, yang memicu peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia. Pada 2026, peningkatan hujan ini diperkirakan merata di banyak daerah sentra pertanian seperti Jawa, Sumatra, Sulawesi, hingga sebagian Nusa Tenggara.

Karena curah hujan meningkat lebih awal, pola tanam otomatis berubah. Biasanya, musim hujan jadi penanda dimulainya musim tanam padi. Dengan adanya La Nina, musim tanam bisa maju lebih cepat dari kalender biasanya, membuat sebagian petani perlu menyesuaikan rencana pengolahan lahan mereka.

Dampak Positif La Nina

Meski sering dianggap sebagai pembawa bencana, La Nina sebenarnya juga membawa beberapa peluang bagi sektor pertanian Indonesia. Curah hujan yang cukup di awal musim dapat mendukung percepatan musim tanam, terutama pada lahan sawah irigasi dan tadah hujan.

Air yang berlimpah bukan hanya membantu pertumbuhan tanaman, tetapi juga mengisi ulang cadangan air untuk irigasi. Hal ini sangat penting bagi wilayah yang selama ini rentan kekeringan. Dengan air yang terjaga, produktivitas tanaman pangan seperti padi dan jagung berpotensi meningkat.

Selain itu, curah hujan yang stabil mendorong perluasan area tanam. Petani yang sebelumnya mengandalkan hujan musiman bisa memanfaatkan periode basah lebih awal untuk menanam lebih banyak, sehingga menghasilkan total produksi yang lebih tinggi.

Resiko Saat Terjadi La Nina

Sayangnya, sisi positif La Nina sering kalah oleh risiko besar yang mengikutinya. Peningkatan curah hujan yang berlebihan hampir selalu diikuti oleh bencana hidrometeorologis seperti banjir dan tanah longsor. Ketika lahan tergenang terlalu lama, sawah bisa mengalami puso atau gagal panen total.

Untuk daerah dengan sistem drainase yang buruk, genangan air bisa berlangsung berhari-hari, merusak akar tanaman dan memicu penurunan produksi pangan secara keseluruhan. Infrastruktur irigasi yang tidak memadai juga rentan rusak akibat debit air yang meningkat drastis.

Kelembapan yang tinggi menjadi rumah ideal bagi berbagai hama dan penyakit tanaman. Serangan wereng, jamur, dan busuk akar biasanya meningkat tajam saat musim hujan panjang. Akibatnya, petani harus menambah biaya perlindungan tanaman, sementara hasil panen tetap berpotensi turun.

Strategi Mitigasi Menghadapi La Nina 2026

Menghadapi Dampak La Nina Terhadap Pertanian Indonesia 2026, petani dan pemerintah perlu bergerak cepat. Salah satu langkah utama adalah memaksimalkan sistem peringatan dini berbasis informasi iklim dari BMKG. Dengan mengetahui potensi cuaca ekstrem, petani dapat menyesuaikan jadwal tanam atau mengambil langkah pencegahan agar panen tetap aman.

Pengelolaan air juga menjadi kunci utama. Sistem irigasi perlu diperkuat, sementara drainase harus diperbaiki agar kelebihan air bisa dialirkan dengan cepat. Dengan begitu, risiko banjir di sawah bisa ditekan. Untuk wilayah rawan longsor, rehabilitasi lahan dan pembuatan terasering bisa menjadi solusi tambahan.

Selain itu, penggunaan varietas tanaman yang tahan genangan atau hama perlu diperluas. Banyak varietas padi modern yang dirancang untuk kondisi ekstrem, dan ini bisa menjadi penyelamat saat La Nina datang. Penyesuaian kalender tanam berdasarkan prediksi hujan juga harus dilakukan agar waktu tanam selaras dengan kondisi cuaca yang berubah.

La Nina memang membawa tantangan besar, tetapi bukan berarti semua dampaknya negatif. Jika dikelola dengan strategi yang tepat, fenomena ini bisa menjadi momentum bagi pertanian Indonesia untuk meningkatkan produksi. Namun tanpa mitigasi dan adaptasi yang baik, risiko gagal panen bisa meningkat drastis.

Karena itu, memahami Dampak La Nina Terhadap Pertanian Indonesia 2026 menjadi penting agar petani, pemerintah, dan masyarakat dapat bersiap menghadapi perubahan iklim yang semakin tidak menentu. Dengan langkah adaptasi yang tepat, La Nina bukan lagi momok, melainkan salah satu peluang dalam siklus alam yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin.(***)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini