Beranda Perubahan Iklim Fenomena Kemarau Basah: Mengapa Hujan Turun di Musim Kering dan Bagaimana Nasib...

Fenomena Kemarau Basah: Mengapa Hujan Turun di Musim Kering dan Bagaimana Nasib Petani?

6
0
Fenomena Kemarau Basah (Dok. Istimewa)
Fenomena Kemarau Basah (Dok. Istimewa)

Aksilingkungan.id – Secara umum, masyarakat Indonesia memahami bahwa terdapat dua musim yang pasti yaitu enam bulan kemarau dan enam bulan penghujan.

Namun, beberapa tahun terakhir curah hujan dengan intensitas tinggi kerap mengguyur di bulan-bulan yang seharusnya menjadi puncak musim kering.

Seperti halnya yang terjadi pada akhir bulan Juli 2026, bulan yang seharusnya menjadi bulan kemarau, tetapi hujan dengan intensitas tinggi masih mengguyur beberapa wilayah di Indonesia.

Fenomena yang sering disebut sebagai “kemarau basah” ini bukan sekadar anomali cuaca biasa, melainkan cerminan dari dinamika atmosfer global yang mulai berubah.

Bagi masyarakat perkotaan, mungkin berpandangan cukup sedia payung di ketidakpastian cuaca ini. Namun, bagi para petani, setetes hujan di musim kering bisa menjadi penentu antara panen raya atau gagal total.

Mengapa Hujan Turun di Musim Kemarau?

Foto: unsplash/Sreenivas

Secara ilmiah, terjadinya hujan di musim kemarau dipicu oleh beberapa faktor diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Fenomena La Niña dan IOD (Indian Ocean Dipole) Negatif
    Fenomena ini adalah motor utama terjadinya kemarau basah di Indonesia. Ketika suhu permukaan laut di wilayah Indonesia lebih hangat dari biasanya, penguapan meningkat secara drastis.
    Akibatnya, pasokan awan konvektif (awan hujan) tetap melimpah meskipun angin monsun tenggara yang kering sedang bertiup.
  2. MJO (Madden-Julian Oscillation)
    Pergerakan gelombang atmosfer dari Samudra Hindia ke Samudra Pasifik yang membawa massa udara basah.
    Jika MJO sedang aktif di atas Indonesia (fase 3, 4, atau 5), hujan lebat bisa terjadi dalam hitungan hari hingga minggu di tengah musim kemarau.
  3. Pemanasan Global (Perubahan Iklim)
    Meningkatnya suhu global menyebabkan atmosfer menampung lebih banyak uap air (sekitar 7% lebih banyak untuk setiap kenaikan 1°C, berdasarkan hukum Clausius-Clapeyron). Hal ini membuat pola cuaca menjadi ekstrem dan sulit diprediksi.

Dilema dan Nasib Para Petani

Foto: unsplash/Siwawut Phoophinyo

Hujan di musim kemarau adalah pisau bermata dua bagi sektor pertanian. Dampaknya sangat bergantung pada jenis komoditas yang ditanam, terutama bagi para petani komoditas hortikultura dan perkebunan seperti tembakau, cabai, bawang merah, dan garam adalah pihak yang paling terpukul.

Tembakau membutuhkan cuaca kering agar kualitas daunnya optimal. Hujan yang turun tiba-tiba dapat merusak daun tembakau dan memicu pembusukan akar, seperti halnya yang terjadi pada petani tembakau di Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), terancam gagal panen akibat cuaca tak menentu.

Begitu pula dengan petani garam yang proses kristalisasinya terganggu, serta petani cabai yang terancam gagal panen akibat serangan jamur (antraknosa) yang merebak karena kelembapan tinggi.

Seperrti halnya yang pernah dialami oleh petani di Kalurahan Giripeni, Kapanewon Wates, Kulon Progo, Yogyakarta yang menanam cabai dan bawang merah mati membusuk akibat guyuran hujan yang terjadi selama tiga hari berturut – turut di musim kemarau.

Solusi Strategis dan Adaptasi

Foto: unsplash/Randy Fath

Untuk menghadapi ketidakpastian iklim ini, perlu Langkah yang taktis untuk menghadapi fenomena ini, diantaranya sebagai berikut.

  1. Pemanfaatan Agroklimatologi Modern
    Petani harus dibekali kemampuan membaca data cuaca. BMKG secara rutin mengeluarkan prakiraan iklim jangka panjang.
    Digitalisasi pertanian melalui aplikasi berbasis cuaca dapat membantu petani menentukan kapan waktu terbaik untuk menanam atau memanen.
  2. Diverifikasi dan Rotasi Tanaman
    Alih-alih terpaku pada satu komoditas berisiko tinggi, petani perlu didorong untuk melakukan rotasi tanaman yang lebih tahan terhadap fluktuasi air (misalnya, varietas padi tahan genangan atau beralih ke palawija tertentu).
  3. Penerapan Smart Farming (Pertanian Cerdas)
    Smart Farming melibatkan pembangunan infrastruktur air yang adaptif, seperti embung penampung air, sistem drainase yang baik untuk mencegah genangan di lahan hortikultura, serta penggunaan mulsa untuk menjaga kelembapan tanah tanpa merusak akar saat hujan tiba-tiba turun.
    Misalnya yang telah dilakukan oleh para petani di Desa Ajung, Kabupaten Jember, Jawa Timur, sebagai bagian dari pengembangan budidaya Tembakau Bawah Naungan (TBN) PTPN I (Persero).
    Para petani memanfaatkan teknologi pertanian modern, termasuk konsep smart farming berbasis science farming, sehingga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas tembakau meskipun curah hujan tinggi.
  4. Asuransi Pertanian (AUTP)
    Pemerintah perlu memperluas jangkauan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dan skema asuransi serupa untuk tanaman hortikultura guna melindungi petani dari kerugian finansial total akibat gagal panen akibat anomali cuaca.

Kesimpulan

Hujan di musim kemarau bukan lagi sekadar keanehan alam sesaat, melainkan realitas baru dari perubahan iklim global yang harus kita hadapi. Fenomena ini membawa berkah sekaligus musibah yang tidak merata bagi para petani.

Kunci keberlanjutan pangan kita terletak pada sejauh mana kita mampu beradaptasi. Mulai dari pemanfaatan teknologi prediksi cuaca yang presisi, pembenahan tata kelola air, hingga perlindungan finansial bagi petani.

Menyelamatkan petani dari ketidakpastian iklim adalah langkah awal untuk mengamankan isi piring kita semua.(***)

*Adam Fasli
Bukan siapa – siapa, cuman rakyat Indonesia yang ingin lingkungan tetap terjaga✌🏻

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini