Dalam perjalanan saya baru-baru ini ke Singapura, ada sesuatu yang terasa lebih kuat daripada sekadar kesan tentang kota yang bersih dan teratur.
Yang menarik perhatian saya justru bagaimana alam ditempatkan di tengah-tengah kehidupan urban, bukan sebagai ornamen yang ditambahkan setelah kota selesai dibangun, melainkan sebagai bagian dari cara kota itu dirancang dan dijalankan.
Berjalan di sepanjang Marina Bay, saya melihat gedung-gedung pencakar langit menjulang dengan fasad kaca dan beton, tetapi di sela-selanya tumbuh lapisan vegetasi tropis yang lebat. Taman, pepohonan, semak, hingga taman vertikal seolah menjadi bagian dari bahasa arsitektur Singapura.
Pemandangan itu menghadirkan sebuah paradoks yang menarik. Di satu sisi, Singapura adalah salah satu contoh paling ekstrem tentang bagaimana manusia mengubah ruang untuk kepentingan kehidupan modern.
Lahan terbatas, kepadatan tinggi, pembangunan vertikal, jaringan transportasi yang kompleks, dan aktivitas ekonomi yang sangat intensif menjadikannya sebuah kota yang sepenuhnya urban.
Namun, di sisi lain, kota ini terus berusaha menghadirkan kembali sesuatu yang pada dasarnya telah banyak dikorbankan oleh urbanisasi: alam.
Di tengah taman-taman yang terawat rapi itu, saya merasakan hubungan yang tenang dengan keindahan alam. Ada kesejukan yang berbeda ketika berjalan di antara gedung-gedung tinggi tetapi masih menemukan kanopi pepohonan, tanaman tropis, dan ruang terbuka hijau.
Pengalaman tersebut membuat saya berpikir bahwa kota yang baik barangkali bukan kota yang sepenuhnya menyingkirkan alam demi pembangunan, melainkan kota yang memahami bahwa manusia tetap membutuhkan alam bahkan ketika hidupnya semakin jauh dari lanskap alami.
Singapura juga mengajarkan sisi lain dari persoalan lingkungan perkotaan. Kebersihan dan keteraturannya tidak semata-mata lahir dari kesadaran ekologis masyarakat.
Di balik trotoar yang bersih dan ruang publik yang tertata terdapat kerangka hukum yang tegas, terpusat, dan dijalankan dengan konsisten.
Tanda-tanda peringatan mengenai denda membuang sampah sembarangan, larangan meludah, serta berbagai aturan lain mengingatkan bahwa perilaku warga di ruang publik bukan sepenuhnya perkara pilihan pribadi.
Di sinilah saya melihat sebuah pertanyaan yang lebih besar: apakah kota yang bersih harus selalu dibangun melalui hukuman dan pengawasan?
Jawabannya mungkin tidak sesederhana ya atau tidak. Regulasi memang diperlukan karena ruang publik adalah ruang bersama.
Ketika seseorang membuang sampah sembarangan, dampaknya tidak berhenti pada dirinya sendiri. Sampah dapat menyumbat drainase, mencemari air, merusak estetika kota, mengganggu satwa, dan pada akhirnya meningkatkan biaya yang harus ditanggung masyarakat.
Dalam konteks tersebut, aturan bukan sekadar alat untuk menciptakan kota yang enak dipandang. Ia merupakan instrumen untuk melindungi kepentingan bersama.
Tetapi lingkungan yang sehat tidak semestinya hanya diukur dari seberapa bersih jalanan terlihat. Kebersihan adalah salah satu bagian dari lingkungan, bukan keseluruhannya.
Kota dapat memiliki trotoar yang bebas sampah, taman yang indah, dan jalan yang mengilap, tetapi tetap menghadapi persoalan emisi kendaraan, konsumsi energi yang tinggi, jejak karbon bangunan, penggunaan air, limbah konstruksi, dan tekanan terhadap keanekaragaman hayati.
Karena itu, apa yang saya lihat di Singapura terasa lebih menarik jika dibaca bukan sekadar sebagai kisah tentang kota paling bersih, melainkan sebagai eksperimen tentang bagaimana manusia mencoba mengelola kehidupan urban di tengah keterbatasan alam.
Vegetasi yang hadir di gedung-gedung modern memberi pesan bahwa pembangunan dan alam tidak harus selalu ditempatkan sebagai dua kutub yang berlawanan.
Atap dapat menjadi taman. Dinding dapat ditumbuhi tanaman. Ruang yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai beton dan kaca dapat diberi kehidupan baru. Hal serupa saya rasakan ketika melihat Jepang, terutama Tokyo.
Wisatawan yang datang ke Tokyo sering kali terkesan oleh kebersihan ruang publiknya. Jalanan relatif tertib, fasilitas umum dirawat, dan orang-orang memiliki kesadaran yang kuat untuk tidak mengganggu kenyamanan orang lain.
Yang menarik, kebersihan tersebut tidak selalu ditampilkan secara agresif. Kita tidak selalu melihat tempat sampah dalam jumlah besar di setiap sudut kota. Dalam banyak situasi, orang justru membawa kembali sampah mereka sendiri.
Ada sesuatu yang berbeda dalam pendekatan semacam itu. Lingkungan tidak semata-mata dipandang sebagai ruang yang harus dibersihkan oleh pihak lain, tetapi sebagai ruang yang memiliki tanggung jawab bersama.
Kesadaran semacam ini tentu tidak muncul dalam semalam. Ia dibentuk oleh kebiasaan, pendidikan, norma sosial, desain ruang, serta rasa hormat terhadap orang lain.
Di Tokyo, saya melihat bagaimana keteraturan dapat menjadi bagian dari budaya hidup sehari-hari. Orang tidak perlu selalu diingatkan dengan papan larangan untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah dipahami sebagai kepantasan bersama.
Di sinilah kebersihan memiliki dimensi ekologis sekaligus sosial. Menjaga ruang publik berarti memahami bahwa kita hidup berdampingan dengan orang lain, dan secara tidak langsung juga berdampingan dengan lingkungan yang menopang kehidupan kita.
Tentu saja, Jepang dan Singapura tidak bisa begitu saja dijadikan model yang kemudian diterapkan mentah-mentah di negara lain.
Keduanya memiliki sejarah, budaya, kepadatan penduduk, sistem pemerintahan, tingkat kesejahteraan, dan karakter kota yang berbeda.
Apa yang berhasil di Singapura atau Tokyo belum tentu berhasil dengan cara yang sama di Jakarta, Surabaya, Semarang, atau kota-kota lain di Indonesia.
Meski demikian, ada prinsip yang bisa dipelajari. Kota tidak seharusnya melihat alam sebagai ruang kosong yang menunggu dibangun. Pohon bukan sekadar dekorasi trotoar. Taman bukan sekadar tempat untuk mempercantik kawasan. Sungai bukan sekadar saluran pembuangan.
Ruang hijau memiliki fungsi ekologis yang jauh lebih besar: menyerap air hujan, mengurangi suhu, menyediakan habitat bagi berbagai makhluk hidup, menyaring polutan, menyimpan karbon, dan memberikan ruang bagi manusia untuk bernapas secara harfiah maupun psikologis.
Dalam konteks perubahan iklim, cara pandang tersebut menjadi semakin penting. Kota-kota di Asia menghadapi gelombang panas, hujan ekstrem, banjir, dan tekanan terhadap sumber daya air.
Beton dan aspal memang diperlukan untuk kehidupan modern, tetapi ketika permukaan kedap air mendominasi hampir seluruh kota, alam kehilangan ruang untuk bekerja.
Air hujan tidak lagi meresap ke tanah. Panas tersimpan di permukaan bangunan. Pepohonan semakin sedikit. Kota menjadi lebih rentan terhadap perubahan iklim yang juga ikut kita ciptakan.
Mungkin karena itulah pengalaman berjalan di Singapura dan melihat kebersihan Tokyo membuat saya memikirkan ulang arti kota yang ideal.
Kota yang baik bukan hanya kota yang tampak bersih dari sampah. Ia adalah kota yang mampu menjaga hubungan yang masuk akal antara manusia, bangunan, air, udara, tanah, tumbuhan, dan makhluk hidup lainnya.
Kita tidak perlu mengubah semua kota menjadi Singapura atau Tokyo. Yang lebih penting adalah belajar dari cara kedua kota tersebut menunjukkan bahwa modernitas tidak harus identik dengan keterasingan dari alam.
Pembangunan dapat tetap berjalan, tetapi harus disertai kesadaran bahwa setiap meter persegi yang kita bangun memiliki konsekuensi ekologis.
Kebersihan mungkin merupakan hal pertama yang kita lihat ketika memasuki sebuah kota. Tetapi keberlanjutan adalah sesuatu yang jauh lebih dalam dan sering kali tidak langsung terlihat.
Ia tersembunyi dalam bagaimana air dikelola, bagaimana bangunan dirancang, bagaimana energi digunakan, bagaimana sampah diproses, bagaimana pohon dipertahankan, dan bagaimana masyarakat memperlakukan ruang yang mereka bagi bersama.
Singapura menunjukkan bahwa alam dapat ditenun kembali ke dalam arsitektur kota. Tokyo menunjukkan bahwa kebersihan juga dapat tumbuh dari kebiasaan dan tanggung jawab sosial.
Keduanya memberi pelajaran yang berbeda, tetapi bertemu pada satu gagasan penting: kota bukan lawan dari alam.
Kota adalah bagian dari ekosistem yang lebih besar. Bisa jadi, tantangan terbesar bagi kota-kota kita bukanlah bagaimana membangun lebih banyak, melainkan bagaimana membangun tanpa membuat alam terus-menerus membayar harganya.(***)

Penulis: T.H. Hari Sucahyo*
*Peminat bidang Keutuhan Ciptaan
Penggagas Forum Grup Diskusi “BENIH”
Anggota Dewan Pakar PT Generasi Cendekia Profesional (GenCPro)







