Gunung Tumpang Pitu di Banyuwangi, Jawa Timur, dulunya dikenal sebagai kawasan hijau yang menyatu dengan kehidupan masyarakat pesisir dan pegunungan.
Terletak di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, kawasan ini kini berubah drastis sejak hadirnya tambang emas berskala besar yang dikelola PT Bumi Suksesindo (BSI), anak perusahaan PT Merdeka Copper Gold Tbk.
Sejak mulai beroperasi sekitar 2016–2017, Tumpang Pitu tidak hanya menjadi pusat produksi emas, tetapi juga simbol perdebatan panjang tentang dampak tambang terhadap ekologi lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat.
Perubahan Status Kawasan dan Dampaknya bagi Alam

Salah satu titik krusial dalam kasus Tumpang Pitu adalah perubahan status kawasan dari hutan lindung menjadi hutan produksi. Secara administratif, perubahan ini membuka jalan bagi aktivitas pertambangan.
Namun, secara ekologis, keputusan tersebut memicu kekhawatiran besar. Hutan lindung berfungsi menjaga keseimbangan air, tanah, dan keanekaragaman hayati. Ketika statusnya berubah, perlindungan ekologis melemah dan risiko kerusakan lingkungan meningkat.
Inilah contoh nyata bagaimana kebijakan tata ruang bisa berdampak langsung pada keberlanjutan ekosistem.
Dampak Tambang terhadap Ekologi Lingkungan Sekitar
Aktivitas tambang emas di Tumpang Pitu membawa konsekuensi lingkungan yang tidak bisa diabaikan. Penggundulan bukit dan pengerukan tanah mengubah bentang alam secara permanen.
Dampak tambang terhadap ekologi lingkungan terlihat dari meningkatnya erosi, banjir lumpur saat musim hujan, hingga sedimentasi di laut.
Lumpur dan material tambang yang terbawa air hujan mengalir ke sungai dan pesisir, mencemari ekosistem laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan nelayan.
Ancaman terhadap Pertanian dan Ketahanan Pangan Lokal
Bagi petani di sekitar Tumpang Pitu, dampak tambang tidak berhenti di kawasan tambang saja. Banjir lumpur dan perubahan kualitas tanah mengancam lahan pertanian.
Sawah dan kebun yang sebelumnya produktif menjadi rentan gagal panen. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melemahkan ketahanan pangan lokal.
Ketika pertanian terganggu, masyarakat kehilangan sumber penghasilan yang selama ini relatif stabil dan berkelanjutan.
Nelayan dan Laut yang Tak Lagi Ramah
Wilayah pesisir Banyuwangi, termasuk sekitar Pulau Merah, dikenal sebagai kawasan perikanan dan pariwisata.
Namun, sedimentasi laut akibat aktivitas tambang membuat hasil tangkapan nelayan menurun. Air laut yang keruh mengganggu ekosistem terumbu karang dan biota laut lainnya.
Dampak tambang terhadap ekologi lingkungan laut ini berimbas langsung pada pendapatan nelayan, memaksa sebagian dari mereka mencari pekerjaan alternatif yang belum tentu sesuai dengan keterampilan yang dimiliki.
Tumpang Pitu sebagai Benteng Alami Tsunami
Bagi warga setempat, Gunung Tumpang Pitu bukan sekadar bukit biasa. Mereka meyakini kawasan ini berfungsi sebagai benteng alami tsunami.
Letaknya yang strategis dan kontur alamnya dianggap mampu meredam gelombang besar dari Samudra Hindia. Penggundulan bukit akibat tambang menimbulkan kekhawatiran baru: hilangnya perlindungan alami dari bencana.
Dalam konteks Indonesia yang rawan gempa dan tsunami, hilangnya benteng alam menjadi ancaman serius bagi keselamatan warga pesisir.
Konflik Sosial yang Membelah Masyarakat
Selain dampak ekologis, tambang Tumpang Pitu juga memicu konflik sosial berkepanjangan. Kehadiran tambang membelah masyarakat menjadi kelompok pro dan kontra.
Sebagian melihat tambang sebagai sumber lapangan kerja dan pendapatan daerah, sementara yang lain menolak karena dampak lingkungan dan sosial yang dirasakan.
Ketegangan ini memicu protes, penolakan, hingga kasus kriminalisasi warga yang bersuara kritis. Dampak tambang terhadap ekologi lingkungan akhirnya merembet ke krisis sosial yang menggerus harmoni komunitas.
Janji Ekonomi dan Realita di Lapangan
Tidak bisa dipungkiri, tambang emas Tumpang Pitu membuka lapangan kerja dan menyumbang pemasukan ekonomi. Namun, pertanyaannya: siapa yang paling diuntungkan?
Banyak warga lokal merasa manfaat ekonomi tidak sebanding dengan kerugian ekologis dan sosial yang mereka alami. Ketika pertanian, perikanan, dan pariwisata terganggu, ekonomi lokal berbasis sumber daya alam berkelanjutan justru terancam.
Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi berbasis tambang sering kali bersifat jangka pendek.
Pariwisata Pulau Merah yang Ikut Terancam
Pulau Merah adalah salah satu ikon pariwisata Banyuwangi yang terkenal hingga mancanegara. Keindahan pantai dan ombaknya menarik wisatawan dan peselancar.
Namun, kerusakan lingkungan di sekitar Tumpang Pitu berpotensi menurunkan daya tarik wisata. Pencemaran laut dan perubahan lanskap dapat merusak citra kawasan wisata.
Jika pariwisata menurun, dampaknya kembali dirasakan oleh masyarakat lokal yang menggantungkan hidup dari sektor ini.
Tumpang Pitu sebagai Cermin Dilema Pembangunan
Kasus Tumpang Pitu mencerminkan dilema klasik pembangunan di Indonesia: antara eksploitasi sumber daya alam dan keberlanjutan lingkungan.
Dampak tambang terhadap ekologi lingkungan tidak hanya soal rusaknya alam, tetapi juga soal keadilan sosial dan masa depan generasi mendatang.
Pembangunan yang mengorbankan lingkungan sering kali meninggalkan beban jangka panjang yang harus ditanggung masyarakat lokal.
Pentingnya Evaluasi dan Penegakan Lingkungan
Belajar dari Tumpang Pitu, evaluasi menyeluruh terhadap izin tambang dan kebijakan lingkungan menjadi sangat penting. Penegakan hukum lingkungan harus berjalan tegas dan transparan.
Analisis dampak lingkungan tidak boleh hanya menjadi formalitas, tetapi benar-benar melibatkan masyarakat terdampak. Tanpa pengawasan ketat, risiko kerusakan ekologi akan terus berulang di berbagai daerah lain.
Menuju Pembangunan Berkelanjutan
Tambang dan pembangunan ekonomi bukan hal yang sepenuhnya salah. Namun, tanpa pendekatan berkelanjutan, dampak negatifnya bisa jauh lebih besar daripada manfaatnya.
Kasus Tumpang Pitu mengajarkan bahwa suara masyarakat lokal, perlindungan ekologi, dan keselamatan jangka panjang harus menjadi prioritas.
Pembangunan seharusnya tidak hanya menghitung keuntungan hari ini, tetapi juga memastikan lingkungan tetap layak huni esok hari.
Dampak tambang terhadap ekologi lingkungan di Tumpang Pitu adalah pelajaran penting bagi Indonesia. Alam yang rusak sulit dipulihkan, konflik sosial meninggalkan luka panjang, dan janji ekonomi sering kali tidak sebanding dengan kerugian yang terjadi.
Jika kita ingin masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan, pendekatan pembangunan harus berubah. Tumpang Pitu seharusnya menjadi pengingat bahwa emas paling berharga bukan yang ditambang dari perut bumi, melainkan lingkungan hidup yang lestari.(***)







