Aksilingkungan.id – Eksploitasi lingkungan dalam perang dan konflik bersenjata sering menimbulkan kerusakan ekosistem, polusi, dan krisis sumber daya.
Ketika kita mendengar kata perang, yang terlintas biasanya adalah korban jiwa, senjata, atau perebutan kekuasaan. Namun, ada satu korban lain yang sering terlupakan, yakni bagaimana dampaknya terhadap lingkungan hidup.
Eksploitasi lingkungan dalam perang dan konflik bersenjata bukan hanya soal hancurnya bangunan atau meledaknya bom, tapi juga soal bagaimana alam dieksploitasi dan dirusak demi kepentingan militer.
Sumber daya alam dijadikan alat strategi perang, hutan dibakar untuk menutupi pergerakan musuh, hingga bahan kimia disebarkan tanpa memikirkan dampak jangka panjang bagi kehidupan manusia dan ekosistem.
Masalah ini begitu serius hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 6 November sebagai Hari Internasional untuk Mencegah Eksploitasi Lingkungan dalam Perang dan Konflik Bersenjata.
Dampak Eksploitasi Lingkungan dalam Perang
Eksploitasi lingkungan dalam perang dan konflik bersenjata meninggalkan jejak panjang yang tak mudah dihapus. Salah satu dampak paling nyata adalah pencemaran.
Penggunaan senjata kimia, pembakaran fasilitas minyak, atau pembuangan limbah militer bisa meracuni tanah, air, dan udara.
Kandungan logam berat dari amunisi atau sisa bahan peledak dapat bertahan selama puluhan tahun, memengaruhi kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar area konflik.
Selain itu, kerusakan ekosistem menjadi bencana lain yang tak kalah besar. Ketika hutan dibakar atau wilayah alam dijadikan medan perang, habitat satwa liar ikut musnah.
Banyak spesies kehilangan tempat hidupnya dan keanekaragaman hayati menurun drastis. Tak jarang, daerah yang dulunya subur berubah menjadi tanah tandus akibat paparan bahan kimia atau bom yang meledak.
Dampak berikutnya adalah kerawanan sumber daya alam. Perang membuat lahan pertanian rusak, air tercemar, dan akses terhadap sumber daya menjadi terbatas. Akibatnya, masyarakat sipil menderita kekurangan pangan dan air bersih.
Hal ini menimbulkan efek domino berupa migrasi besar-besaran, kelaparan, hingga konflik sosial baru yang muncul karena perebutan sumber daya.
Tak kalah penting, dampak kesehatan manusia juga menjadi perhatian besar. Polusi udara akibat pembakaran minyak atau paparan zat beracun dari senjata kimia menyebabkan gangguan pernapasan, kanker, hingga kelainan genetik. Beberapa dampak bahkan dirasakan lintas generasi, seperti yang terjadi pada korban Agent Orange di Vietnam.
Contoh Eksploitasi Lingkungan dalam Perang dan Konflik Bersenjata
Sejarah mencatat banyak contoh tragis dari eksploitasi lingkungan dalam perang dan konflik bersenjata. Salah satu yang paling terkenal adalah Perang Vietnam.
Pada masa itu, pasukan Amerika Serikat menggunakan bahan kimia bernama Agent Orange untuk menghancurkan hutan dan lahan pertanian yang dijadikan tempat persembunyian musuh.
Akibatnya, jutaan hektar hutan tropis hancur, dan ribuan orang mengalami gangguan kesehatan berat, termasuk cacat lahir yang masih terlihat hingga kini.
Contoh lain adalah Perang Teluk pada tahun 1991, ketika lebih dari 600 sumur minyak di Kuwait dibakar.
Asap hitam pekat menyelimuti langit selama berbulan-bulan, menyebabkan polusi udara parah dan menghancurkan ekosistem di sekitarnya. Bahkan, hujan asam dan kabut beracun sempat menyebar hingga ke negara tetangga.
Pada konflik Lebanon–Israel tahun 2006, pemboman terhadap pembangkit listrik Jiyeh menyebabkan tumpahan minyak besar ke Laut Mediterania. Dampaknya, ribuan biota laut mati, garis pantai tercemar, dan nelayan kehilangan mata pencaharian.
Semua peristiwa tersebut menunjukkan bahwa setiap perang tidak hanya memusnahkan manusia, tapi juga merusak kehidupan alam yang menopang manusia itu sendiri.
Upaya Internasional untuk Menyelamatkan Bumi
Melihat besarnya kerusakan yang terjadi, dunia internasional kini semakin sadar pentingnya perlindungan lingkungan dalam situasi perang.
PBB melalui United Nations Environment Programme (UNEP) telah mengeluarkan berbagai pedoman agar negara-negara menghormati hukum lingkungan bahkan di tengah konflik.
Beberapa konvensi internasional juga menegaskan larangan penggunaan senjata yang merusak lingkungan secara luas dan berkepanjangan.
Selain itu, banyak organisasi kemanusiaan dan lingkungan bekerja untuk menilai kerusakan pascaperang dan membantu pemulihan ekosistem. Program reboisasi, pembersihan bahan kimia, serta edukasi lingkungan menjadi langkah penting untuk memulihkan keseimbangan alam.
Namun, semua upaya ini tidak akan berarti tanpa kesadaran global dan komitmen politik dari negara-negara dunia.
Mencegah eksploitasi lingkungan dalam perang berarti melindungi masa depan umat manusia. Karena sesungguhnya, bumi bukan hanya medan pertempuran, ia adalah rumah bersama yang harus dijaga.(***)







