Beranda Lingkungan Kenapa Perkebunan Sawit Tidak Bisa Menggantikan Fungsi Hutan?

Kenapa Perkebunan Sawit Tidak Bisa Menggantikan Fungsi Hutan?

64
0
Kenapa Perkebunan Sawit Tidak Bisa Menggantikan Fungsi Hutan (IDN Times)
Kenapa Perkebunan Sawit Tidak Bisa Menggantikan Fungsi Hutan (IDN Times)

Aksilingkungan.id – Ketika Presiden Prabowo menyebut bahwa memperluas perkebunan sawit tidak perlu membuat Indonesia takut pada deforestasi karena kelapa sawit juga termasuk pohon, pernyataan tersebut langsung memicu perdebatan.

Banyak aktivis lingkungan yang menilai penyamaan sawit dan hutan sebagai bentuk miskonsepsi besar. Faktanya, hutan dan perkebunan sawit adalah dua ekosistem yang sangat berbeda, baik dari segi fungsi ekologis maupun dampak lingkungannya.

Fenomena banjir bandang yang terjadi di berbagai wilayah Sumatra menjadi contoh nyata bagaimana hilangnya tutupan hutan membawa efek domino.

Apa sebenarnya perbedaan mendasar antara hutan dan kebun sawit? Dan kenapa perkebunan sawit tidak bisa menggantikan fungsi hutan meskipun dipenuhi “pohon”? Mari kita bahas.

Hutan Bukan Sekadar Kumpulan Pohon

Saat hutan dibuka dan diganti kebun sawit, yang hilang bukan hanya pepohonan, tetapi satu ekosistem besar yang berisi ribuan bentuk kehidupan. Hutan hujan tropis merupakan rumah bagi pohon dengan akar dalam, berbagai tumbuhan bawah, satwa liar, serta jutaan mikroorganisme yang saling melengkapi satu sama lain.

Semua komponen tersebut bekerja menjadi rantai ekologis yang mana berfungsi untuk menahan air, menyuburkan tanah, menstabilkan iklim, dan mengurangi risiko bencana alam.

Sebaliknya, perkebunan sawit hanyalah ekosistem monokultur. Artinya, hanya ada satu jenis tanaman yang mendominasi dalam satu area. Tidak ada beragam jenis akar, tidak ada variasi struktur tajuk, dan tidak ada keanekaragaman hayati yang menopang siklus alam. Inilah yang menyebabkan kenapa perkebunan sawit tidak bisa menggantikan fungsi hutan.

Akar Sawit Tak Se-“Sakti” Akar Pohon Hutan

Para ahli hidrologi menjelaskan bagaimana akar hutan berperan besar mengatur air di dalam tanah. Pohon hutan memiliki akar yang menjalar jauh ke dalam tanah sehingga mampu menyerap air, menahan erosi, memperlambat aliran permukaan, dan menjaga sungai tetap stabil.

Akar sawit jauh lebih pendek dan kurang kompleks. Akibatnya, kemampuan menyerap air juga menurun drastis. Menurut Walhi, kebun sawit maksimal hanya mampu menyerap sekitar 40% air hujan, itu pun tergantung kontur tanah. Di daerah miring, kebun sawit justru mempercepat runoff yang memicu banjir bandang.

Hal tersebut yang menjadi alasan kenapa ketika hujan ekstrem turun, daerah yang dulunya hutan jauh lebih aman ketimbang yang kini berubah menjadi hamparan sawit.

Daun Hutan Lebih Efektif Meredam Hujan

Daun hutan jauh lebih bervariasi dan memiliki struktur yang lebih baik dalam memperlambat air hujan sebelum menyentuh tanah. Proses ini disebut intersepsi. Air yang tertahan di daun lalu mengalir perlahan ke tanah, menciptakan proses infiltrasi yang stabil.

Pada perkebunan sawit, daun yang homogen tidak memiliki fungsi intersepsi yang setara. Hujan langsung jatuh ke tanah dengan kecepatan tinggi, memperbesar risiko erosi dan longsor.

Monokultur Sawit Bukan Ekosistem

Walaupun diisi tanaman yang tinggi dan berbatang keras, kebun sawit bukanlah hutan. Ekosistem hutan terdiri atas berbagai jenis pohon, semak, serasah tebal, mikroorganisme, satwa kecil hingga predator besar, dan semua itu menciptakan keseimbangan alami.

Monokultur sawit membutuhkan pupuk sintetis, pestisida, dan berbagai bahan kimia agar tetap produktif. Tanpa itu, tanah cepat rusak dan kehilangan kesuburannya. Dalam jangka panjang, tanah kebun sawit bisa terdegradasi dan tidak dapat digunakan untuk pertanian lain.

Studi bahkan menunjukkan bahwa perkebunan sawit menyedot air dalam jumlah besar, sementara hutan justru menyimpan air dan melepaskannya perlahan.

Deforestasi Sawit Percepat Bencana di Sumatra

Fenomena banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bukanlah kejadian tunggal. Deforestasi yang terjadi sejak 15–20 tahun terakhir membuat benteng alami di perbukitan rusak. Ketika hujan ekstrem datang yang kemudian juga dipicu perubahan iklim dan siklon tropis, tidak ada lagi akar yang berfungsi untuk menahan air.

Data Walhi mencatat jutaan hektare hutan hilang karena izin tambang, HGU sawit, dan proyek energi. Hery Purnomo dari IPB menegaskan bahwa deforestasi di Indonesia masih terjadi lebih cepat daripada upaya reboisasi.

Selama hutan terus ditebang, sawit tidak akan mengisi kekosongan fungsi ekologis yang hilang.

Sawit adalah tanaman ekonomi sedangkan hutan adalah ekosistem kehidupan. Menyamakan keduanya hanya karena sama-sama “pohon” adalah kekeliruan yang bisa membawa dampak besar. Jika hutan terus hilang dan diganti sawit, kita akan menghadapi banjir bandang, kekeringan, tanah longsor, hilangnya sumber air, pencemaran tanah, hingga hilangnya satwa liar.

Solusinya jelas, hentikan deforestasi, pulihkan hutan, kelola sawit secara berkelanjutan, dan tingkatkan literasi lingkungan. Karena di negeri dengan curah hujan tinggi seperti Indonesia, keberadaan hutan adalah kebutuhan, bukan sekadar pemanis.(***)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini