Aksilingkungan.id – Di tengah derasnya berita buruk, krisis sosial, dan tekanan hidup yang tak kunjung reda, muncul sebuah lagu dari band indie asal Jakarta, Reality Club. I Don’t Wanna Hate the World, bukan sekadar alunan melodi indie-pop.
Selain terdengar lembut di telinga, lagu ini juga hadir seperti pengakuan jujur dari generasi yang lelah dengan dunia yang tampak terus kehilangan arah, tapi masih ingin percaya bahwa ada hal-hal baik yang patut diperjuangkan.
Musik, Moral dan Keberanian
Band indie ini dikenal karena lirik-liriknya yang introspektif dan tematik. Dalam lagunya, mereka kerap kali mengajak pendengarnya untuk berpikir tentang diri sendiri dan relasi dengan dunia sekitar. Reality Club juga menjadi kelompok musisi yang aktif menyuarakan isu kemanusian. Penggemarnya yang dijuluki “Goddess Rockstar” juga menggunakan panggungnya sebagai tempat untuk menunjukkan keberanian suara.
Bahkan, Fathia Izzati selaku vokalis juga menjadi bagian dari Malaka Project bersama 9 pendiri lainnya memiliki tujuan untuk menciptakan masyarakat yang cerdas, kritis, dan empatik melalui konten edukatif tentang isu sosial, politik, ekonomi, dan filsafat.
Mereka juga sempat mundur dari South by Southwest (SXSW) Music Festival 2024 di Austin, Texas, Amerika Serikat. Meski awalnya band tersebut dijadwalkan tampil pada 14–15 Maret 2024 sebagai bagian dari segmen “FRIENDS:FOREVER”, namun mereka urung naik panggung.
Secara tegas dalam pernyataan resminya, Reality Club menyatakan mundur dan menyebut bahwa mereka telah memperoleh informasi tentang keterlibatan sponsor dalam genosida Palestina.
United States Army dan kontraktor pertahanan sebagai sponsor utama SXSW diduga memproduksi atau memasok senjata yang digunakan dalam penyerangan terhadap masyarakat Palestina. Menurut mereka hal tersebut tidak dapat mereka dukung secara moral.
Menyuarakan Isu Lingkungan bersama IKLIM lewat “I don’t Wanna Hate the World”
Reality Club menjadi salah satu musisi yang tergabung dalam pembuatan album Sonic/Panic Vol.3 yang telah rilis pada 1 November 2025 dengan tema sosial-lingkungan. Lirik “I don’t wanna hate the world” diulang berkali-kali dengan nada lembut namun tegas.
Penggalan lirik itu seperti mantra untuk menenangkan diri sendiri. Ia bukanlah bentuk kepasrahan, melainkan usaha mempertahankan nurani di tengah dunia yang keras. Di sinilah letak kekuatan lagu tersebut, kesederhanaannya terasa tulus, dan pesan yang disampaikan begitu relevan dengan keresahan masa kini.
Ada paradoks besar yang diangkat dalam lagu ini, pertanyaan seperti “Bagaimana mungkin kita mencintai sesuatu yang sering kali menyakiti kita?” Seolah sudah patah hati, kemudian dibuat patah hati lagi dengan orang atau keadaan yang sama. Namun, lagi-lagi membenci bukanlah jalan keluar. Sebab, saat kita membenci, kita ikut menjadi bagian dari siklus kebencian yang sama sementara empati adalah satu-satunya cara untuk memutus rantai itu.
Reality Club menolak logika itu dengan sederhana, “Aku tidak ingin membenci dunia.” Kalimat itu bisa dibaca sebagai bentuk perlawanan kecil — a gentle rebellion dalam semangat liriknya, “And on and on we’re fighting on, this dead planet is all we will see. What’s left for you and me?” Sebuah keputusan untuk tetap memilih kasih di tengah amarah.
Menariknya, lagu ini tidak mencoba menghibur secara semu. Ia tidak berkata bahwa dunia akan baik-baik saja, karena kenyataannya tidak selalu begitu. Namun, ia mengajak kita berdamai dengan realitas tanpa kehilangan empati. Lagu ini seolah berbisik, “Mungkin dunia tidak sempurna, tapi kamu masih bisa menjadi bagian dari hal-hal baik di dalamnya.”
Berangkat dari Luka Kolektif
Kita hidup di era yang penuh kontradiksi. Informasi datang begitu cepat, tapi rasa aman semakin sulit ditemukan. Banyak anak muda yang tumbuh dengan rasa cemas terhadap masa depan: perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi, tekanan sosial dari media, hingga krisis eksistensial tentang makna hidup.
Dalam konteks ini, “I Don’t Wanna Hate the World” terasa seperti representasi suara kolektif generasi yang sadar dan kritis, tapi juga terkadang rapuh. Mereka tidak buta terhadap masalah sosial, tapi tidak ingin kehilangan sisi manusiawi-nya.
Lagu ini berbicara kepada generasi yang tidak lagi percaya pada romantisasi “positivity”, tapi tetap berusaha menjaga empati sebagai bentuk perlawanan. Karena di zaman ini, tetap berempati dan percaya pada kebaikan adalah tindakan yang radikal.
Sing Like Goddess Scream Like Rockstar
Secara musikal, Reality Club menggunakan formula khas mereka dengan perpaduan melodi ringan dan lirik yang reflektif. Nuansa indie-pop-nya menciptakan ruang tenang di kepala, seperti jeda sejenak dari bisingnya realitas. Musik mereka mengingatkan bahwa keindahan bisa lahir dari kesederhanaan dan kesadaran akan luka bisa justru menumbuhkan kasih.
Musik, dalam konteks ini, berfungsi sebagai safe space. Ia memberi ruang bagi pendengarnya untuk mengekspresikan rasa lelah, tapi juga untuk menemukan kekuatan baru. Lagu ini seolah mendekap dengan erat seraya berkata, “Tidak apa-apa merasa kecewa. Tapi jangan biarkan itu berlarut dan membuat hatimu menjadi keras”.
Lebih dari sekadar curahan perasaan, “I Don’t Wanna Hate the World” juga bisa dibaca sebagai ajakan untuk bertanggung jawab terhadap dunia yang kita tinggali. Ia menolak sinisme tapi tidak menutup mata terhadap realitas. Lagu ini mengingatkan bahwa perubahan tidak akan datang dari kebencian, melainkan dari keberanian untuk terus mencintai.
Dengan begitu, lagu ini mengandung pesan yang sangat kontekstual bagi anak muda Indonesia masa kini, bahwa menjadi manusia yang peduli adalah tindakan politis. Bahwa tidak menyerah pada keputusasaan adalah bentuk perlawanan paling jujur.
Di akhir lagu, Reality Club menegaskan kembali kalimat sederhana itu, “I don’t wanna hate the world.” Bukan karena dunia ini mudah dicintai, tapi justru karena ia sulit dan di situlah nilainya. Lagu ini tidak menawarkan solusi instan, tapi menghadirkan ruang untuk merenung. Ia mengajak kita mempertanyakan ulang cara kita berhubungan dengan dunia, dengan sesama, dan dengan diri sendiri. Dalam keheningan setelah lagu berakhir, mungkin kita menyadari bahwa harapan tidak pernah benar-benar hilang, hanya tersembunyi di balik rasa lelah yang belum sempat disembuhkan.
Jadi, ketika dunia terasa terlalu bising, terlalu kejam, atau terlalu melelahkan, mungkin kita bisa mulai dari kalimat sederhana ini, “Aku tidak ingin membenci dunia.” Karena pada akhirnya, mencintai dunia, meski dengan segala lukanya, adalah cara paling berani untuk bertahan hidup. *







