Beranda Energi Waste to Energy di Indonesia: Danantara Siap Jalankan, Surabaya Sudah Lebih Dulu

Waste to Energy di Indonesia: Danantara Siap Jalankan, Surabaya Sudah Lebih Dulu

140
0
Waste to Energy semakin ramai di Indonesia. Danantara targetkan investasi Rp2–3 triliun per unit di 33 kota. Surabaya sudah lebih dulu lewat PLTSa Benowo, meski WALHI catat ada lonjakan polusi udara.
Waste to Energy semakin ramai di Indonesia. Danantara targetkan investasi Rp2–3 triliun per unit di 33 kota. Surabaya sudah lebih dulu lewat PLTSa Benowo, meski WALHI catat ada lonjakan polusi udara. (Sumber: RRI)

Aksilingkungan.id – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) akan meluncurkan sebuah program untuk mengolah sampah menjadi energi atau waste to energy (WTE). Rencananya program ini akan mulai digarap akhir Oktober 2025.

Proyek ini akan dijalankan di 33 kota. Namun, untuk sementara waktu akan berjalan di beberapa kota besar di Indonesia, diantaranya: Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan Bali. Hal tersebut diungkapkan oleh CEO Danantara, Rosan Roeslani.

Targetnya, setiap unit pengolahan akan menghasilkan listrik 15 megawatt (MW). Nilai investasinya juga tidak main-main, untuk satu lokasi berkapasitas 1.000 ton sampah per hari direncanakan membutuhkan dana antara 2-3 triliun rupiah.

Namun program WTE ini sebenarnya bukanlah hal baru di Indonesia. Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur sudah melakukan lebih dulu, dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Meski demikian ada berbagai terkendala yang dihadapi dalam pembangunan tersebut. Salah satunya tingginya biaya investasi. 

Pembangkit yang berlokasi di TPA Benowo, Kecamatan Pakal ini berdiri diatas lahan seluas 37,4 hektare. Proyek yang diresmikan sejak tahun 2021 sampai saat ini sudah berhasil mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari.

Ada dua teknologi yang digunakan pada pembangkit listrik tersebut, yaitu: sanitary landfill dan gasification/zero waste. Listrik yang dihasilkan sebanyak 12 MW dan berhasil dijual ke PLN sebanyak 9 MW.

PLTsa ini merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Kota Surabaya dengan PT. Sumber Organik (SO). Sehingga sisa dari hasil olahannya sebanyak 2 MW pun digunakan oleh SO untuk keperluan operasional.

Namun, berdasarkan pemantauan Wahana LIngkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur sejak November 2024 – Januari 2025, terdapat peningkatan konsentrasi partikel halus PM2.5 dan PM10 pada jam-jam operasional PLTSa Benowo hingga mencapai 100 mikrogram per meter kubik. Ini sudah jauh dari ambang aman WHO yang hanya 15 mikrogram per meter kubik. *

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini