Aksilingkungan.id – Krisis pangan global 2025 bukan sekadar isu statistic, fenomena ini adalah tragedi kemanusiaan yang sedang berlangsung dan mengancam manusia di beberapa belahan dunia.
Berdasarkan laporan Global Report on Food Crises (GRFC) yang dirilis pertengahan Mei 2025, hampir 300 juta orang di seluruh dunia kini hidup dalam kondisi rawan pangan akut, dan jutaan di antaranya sudah berada di ambang kelaparan ekstrem.
Konflik, perubahan iklim, dan runtuhnya sistem ekonomi menjadi kombinasi mematikan yang membuat banyak negara tak mampu memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya. Mari kita lihat lima wilayah yang paling menderita akibat krisis pangan dunia tahun ini.
Gaza
Tak ada tempat lain di dunia yang mengalami krisis pangan seburuk Jalur Gaza. Lebih dari 2 juta penduduk Gaza kini hidup dalam kelaparan akut, dan sekitar separuhnya sudah mencapai tingkat katastrofik (IPC Fase 5) yakni tahap paling ekstrem dalam klasifikasi krisis pangan.
Blokade total yang menutup akses terhadap bahan pangan, air bersih, dan bantuan kemanusiaan membuat situasi semakin genting. Sistem distribusi pangan benar-benar runtuh akibat konflik yang tak kunjung berakhir.
Banyak keluarga hanya makan sekali sehari, bahkan sebagian bergantung pada dedaunan atau makanan sisa untuk bertahan hidup. Gaza menjadi simbol nyata bagaimana konflik bersenjata dapat menghancurkan sistem pangan dan kemanusiaan secara total.
Sudan
Sejak perang saudara meletus pada tahun 2023, Sudan terus terperosok ke dalam bencana kelaparan yang semakin parah.
Lebih dari 25 juta orang kini mengalami krisis pangan akut, dengan banyak di antaranya tinggal di kamp pengungsian yang kekurangan air, pangan, dan layanan medis.
Wilayah seperti Darfur Utara bahkan telah dikonfirmasi menghadapi fase kelaparan (IPC 5). Bantuan internasional sulit masuk karena akses transportasi terputus dan keamanan yang tidak stabil.
Di banyak daerah, masyarakat bertahan hidup hanya dengan makanan seadanya atau hasil berburu. Krisis di Sudan adalah peringatan keras tentang bagaimana perang internal dapat memicu kelaparan massal secara sistemik.
Sudan Selatan
Tetangga dekatnya, Sudan Selatan, juga tak luput dari penderitaan. Negara muda ini menghadapi tekanan ganda yakni adanya konflik bersenjata dan perubahan iklim ekstrem.
Banjir besar menghancurkan lahan pertanian, sementara kekeringan di wilayah lain membuat hasil panen anjlok drastis.
Lebih dari 7 juta warga Sudan Selatan kini hidup dalam kondisi krisis pangan, terutama di daerah pedesaan yang sulit dijangkau bantuan. Anak-anak menjadi korban paling rentan, banyak di antaranya mengalami malnutrisi berat.
Krisis ini menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan ancaman masa depan karena sudah hadir dan sedang memperburuk penderitaan jutaan orang di Afrika.
Yaman
Di Yaman, perang yang berlangsung lebih dari satu dekade telah menghancurkan segalanya mulai dari infrastruktur hingga daya beli masyarakat. Tahun 2025, lebih dari 17 juta penduduk Yaman hidup dalam kondisi rawan pangan akut.
Krisis ini diperparah oleh inflasi tinggi, anjloknya mata uang lokal, dan kekeringan yang melanda lahan pertanian.
Bantuan kemanusiaan dari lembaga seperti FAO dan WFP terus disalurkan, namun kekurangan dana membuat banyak wilayah belum tersentuh. Banyak keluarga hidup sepenuhnya dari bantuan makanan yang semakin terbatas.
Tanpa pendanaan global yang memadai, Yaman berpotensi menghadapi kelaparan massal yang lebih parah dalam waktu dekat.
Haiti
Di belahan dunia lain, Haiti tengah terjerat dalam krisis pangan akibat kekerasan geng dan kekacauan politik. Sekitar 5,4 juta orang kini kesulitan mengakses pangan, dan ribuan lainnya hidup dalam kondisi kelaparan.
Kekerasan yang meluas menghambat rantai logistik dan menaikkan harga bahan pokok secara drastis.
Kondisi ekonomi yang lemah dan ketidakstabilan pemerintahan memperparah situasi. Pasar lokal banyak yang tutup, dan distribusi bantuan menjadi hampir mustahil di beberapa wilayah.
Haiti menjadi contoh nyata bahwa kelaparan bukan hanya soal kekurangan pangan, tetapi juga soal keamanan dan stabilitas sosial.
Solusi untuk Krisis Pangan Global
Krisis pangan global tahun 2025 adalah cerminan kegagalan kolektif dunia dalam menghadapi konflik, perubahan iklim, dan ketimpangan ekonomi.
FAO dan WFP menegaskan bahwa tanpa tindakan cepat dan koordinasi internasional, angka kematian akibat kelaparan terutama di kalangan anak-anak akan terus meningkat.
Pengurangan dana bantuan dari negara donor besar seperti Amerika Serikat memperburuk situasi. Padahal, solusi jangka panjang seperti pemulihan sistem pertanian lokal, akses pendidikan gizi, dan stabilisasi politik sangat dibutuhkan untuk memutus siklus kelaparan.
Krisis ini seharusnya menjadi alarm global bahwa kelaparan bukan hanya tragedi satu bangsa, melainkan tanggung jawab bersama. Dunia perlu bergerak, sekarang, sebelum jutaan nyawa lainnya menjadi korban dari kelalaian kita terhadap kemanusiaan. (***)
Reference: https://www.cnbcindonesia.com/research/20250521123346-128-634976/krisis-pangan-global-ini-5-wilayah-yang-paling-menderita-kelaparan.







