Aksilingkungan.id – Tidak terasa Ramadan telah memasuki 10 hari terakhir. Pusat-pusat perbelanjaan mulai ramai, geliat ekonomi meningkat, dan umat Muslim tengah mempersiapkan diri menyambut kemenangan mereka masing-masing.
Baik di kota maupun di desa, Ramadan selalu disambut dengan penuh suka cita. Banyak orang berusaha mempersiapkan yang terbaik untuk menyambut bulan yang paling istimewa.
Ramadan dan Kesalehan Ekologis
Dalam tradisi Islam, manusia diberikan amanah sebagai khalifah fil ardh atau pemimpin di muka bumi. Artinya, manusia memiliki tanggung jawab untuk memakmurkan sekaligus menjaga bumi yang kita tinggali. Dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 30, ditegaskan bahwa manusia diberi peran untuk mengelola bumi, bukan justru menghadirkan fasad atau kerusakan.
Kesadaran inilah yang kemudian dikenal sebagai kesalehan ekologis. Merawat lingkungan bukan sekadar tindakan sosial, tetapi juga bagian dari keimanan. Dalam Islam, manusia tidak hanya dituntut memiliki hubungan yang baik dengan Allah (hablumminallah) dan dengan sesama manusia (hablumminannas), tetapi juga menjaga harmonisasi dengan seluruh ciptaan (hablum minal ‘alam).
Karena itu, momentum puasa sebenarnya menjadi waktu yang sangat tepat untuk melakukan perenungan. Apakah selama ini kita sudah benar-benar menjadi pengelola bumi yang baik, atau justru tanpa sadar ikut menyumbang berbagai kerusakan lingkungan?
Puasa yang berasal dari kata shaum berarti menahan. Dalam praktiknya, puasa berarti menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun makna menahan diri seharusnya tidak berhenti pada aspek fisik semata.
Jika kita mampu menahan rasa lapar dan haus, maka seharusnya kita juga mampu menahan diri dari berbagai perilaku yang merugikan lingkungan.
Menahan diri untuk tidak mengonsumsi makanan secara berlebihan. Makan secukupnya saat berbuka. Menahan diri untuk tidak menambah beban lingkungan, misalnya dengan menjaga kebersihan sekitar dan mulai mengurangi sampah sejak dari dapur.
Kebiasaan-kebiasaan kecil yang ramah lingkungan juga bisa mulai dibangun selama Ramadan. Menghemat penggunaan air, mematikan lampu yang tidak terpakai, serta mengelola sisa makanan dengan bijak adalah langkah sederhana yang memiliki dampak besar jika dilakukan secara konsisten.
Bukankah puasa bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan? Jika demikian, maka sudah sepatutnya praktik ibadah yang kita jalani selama Ramadan (termasuk puasa) dapat diterjemahkan ke dalam tindakan nyata untuk menjaga bumi.
Apakah Kita Sudah Menjadi Khalifah Fil Ardh?
Bencana alam yang semakin sering terjadi sebenarnya dapat dibaca sebagai alarm bagi manusia. Ia menjadi pengingat bahwa ada sesuatu yang keliru dalam cara kita memperlakukan lingkungan.
Pertanyaannya, apakah kita benar-benar telah menjalankan peran sebagai khalifah fil ardh?
Jawaban atas pertanyaan itu mungkin bisa kita lihat dari kebiasaan sehari-hari, termasuk selama Ramadan ini. Hal-hal sederhana seperti tidak meninggalkan sisa makanan di piring saat berbuka bersama di kafe, restoran, atau warung; serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai saat membeli takjil, sesungguhnya merupakan bentuk tanggung jawab kita sebagai khalifah di bumi.
Dari tindakan-tindakan kecil itulah kesadaran ekologis dapat tumbuh.
Pada akhirnya, puasa seharusnya tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga menjadi titik awal lahirnya kesadaran baru: bahwa merawat bumi adalah bagian dari iman, dan menjaga alam merupakan bentuk ibadah yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Sebab kesalehan ekologis perlu terus dibangun, agar kita benar-benar mampu menjadi pengelola bumi yang baik, bumi yang kelak akan kita wariskan kepada generasi mendatang. *







