Beranda Energi Mobil Listrik Ramah Lingkungan atau Cuma Pindah Polusi? Ini Faktanya

Mobil Listrik Ramah Lingkungan atau Cuma Pindah Polusi? Ini Faktanya

1
0

Mobil listrik sekarang bukan lagi pemandangan langka di jalanan Indonesia. Sepanjang Januari hingga September 2026 saja, penjualan mobil listrik berbasis baterai mencapai 117.218 unit atau naik 112% dibanding periode yang sama tahun lalu. Banyak orang memilihnya karena tidak ada asap knalpot dan dianggap lebih ramah lingkungan.

Tapi pernahkah kamu bertanya, dari mana sebenarnya listrik yang mengisi baterai mobil itu? Lalu ke mana baterainya akan berakhir ketika sudah tidak bisa dipakai lagi?

Pertanyaan ini penting, karena di balik citra hijaunya, mobil listrik juga membawa tantangan lingkungan yang jarang dibahas. Yuk kita bedah faktanya satu per satu supaya kamu bisa menilai dengan lebih jernih.

Benarkah Mobil Listrik Lebih Ramah Lingkungan?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat emisi sepanjang umur kendaraan. Artinya, bukan hanya asap yang keluar saat mobil dikendarai, tetapi juga emisi dari proses produksi, sumber listrik, hingga akhir masa pakainya.

Badan Energi Internasional (IEA) menghitung bahwa mobil listrik ukuran menengah yang dipakai sekitar 35 km per hari selama 15 tahun menghasilkan emisi seumur pakai lebih dari 55% lebih rendah dibanding mobil bensin setara. IEA juga mencatat emisi mobil listrik sekitar 50% lebih rendah dibanding mobil hybrid biasa.

Lembaga riset transportasi ICCT bahkan menemukan selisih yang lebih besar di beberapa pasar utama dunia. Dalam analisisnya, emisi seumur pakai mobil listrik bisa sekitar 70% lebih rendah dibanding mobil berbahan bakar minyak. Jadi secara keseluruhan, data global menunjukkan mobil listrik memang lebih bersih.

Ada “Utang Emisi” dari Baterai

Perbandingan emisi produksi mobil listrik dan mobil bensin

Meski lebih bersih secara keseluruhan, mobil listrik sebenarnya memulai hidupnya dengan beban emisi yang lebih besar. Penyebabnya adalah proses pembuatan baterai yang membutuhkan banyak energi dan bahan tambang.

Menurut ICCT, saat keluar dari pabrik, sebuah mobil listrik sudah menghasilkan sekitar 12 ton emisi karbon, sedangkan mobil bensin sekitar 8 ton. Produksi baterai sendiri menyumbang sekitar 25% dari total emisi seumur pakai mobil listrik.

Kabar baiknya, utang emisi ini bisa lunas dengan cukup cepat. IEA memperkirakan kelebihan emisi dari baterai biasanya tertutup setelah sekitar dua tahun pemakaian. Setelah itu, mobil listrik terus menghasilkan emisi yang jauh lebih rendah dibanding mobil bensin selama sisa umurnya.

Tantangan EV di Indonesia: Listriknya Masih dari Batu Bara

Perbandingan emisi mobil listrik di berbagai negara

Di sinilah cerita mobil listrik di Indonesia menjadi lebih rumit. Seberapa bersih sebuah mobil listrik sangat bergantung pada sumber listrik yang dipakai untuk mengisi baterainya.

Pada 2025, sekitar 69,4% listrik di Indonesia masih berasal dari pembangkit batu bara. Sementara itu, porsi energi terbarukan dalam pembangkitan listrik baru sekitar 16,3%. Artinya, sebagian besar daya yang mengisi mobil listrik di Indonesia masih datang dari PLTU.

Bauran listrik Indonesia 2025, batu bara 69,4 persen

Seorang pakar kelistrikan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta merangkum persoalan ini dengan lugas. Menurutnya, “Kalau listriknya masih didominasi PLTU, kita hanya memindahkan polusi dari jalan raya ke pembangkit”.

Apakah itu berarti mobil listrik jadi tidak berguna? Tidak juga. IEA mencatat bahwa bahkan di negara yang listriknya banyak bergantung pada batu bara seperti Afrika Selatan, India, dan China, mobil listrik tetap menghasilkan emisi seumur pakai yang lebih rendah dibanding mobil bensin.

Hanya saja, keunggulannya tidak sebesar di negara dengan listrik yang lebih bersih. Studi ICCT khusus Indonesia juga menyimpulkan mobil dan motor listrik memiliki emisi seumur pakai terendah di semua segmen, dan keunggulannya akan terus bertambah seiring listrik nasional menjadi lebih bersih.

Sisi Gelap di Sektor Hulu Industri Mobil Listrik

Dampak tambang nikel dan limbah baterai mobil listrik di Indonesia

Baterai mobil listrik membutuhkan berbagai mineral, dan salah satu yang paling penting bagi Indonesia adalah nikel. Indonesia memiliki cadangan nikel sekitar 62 juta ton atau 44,5% dari cadangan dunia. Pada 2025, produksi nikel Indonesia mencapai sekitar 66,7% dari total produksi global.

Posisi ini membawa peluang ekonomi, tetapi juga meninggalkan jejak lingkungan yang berat. Pengolahan nikel dengan teknologi HPAL, yang banyak dipakai untuk bahan baku baterai, menghasilkan sekitar 133 ton tailing beracun untuk setiap satu ton logam nikel.

Tujuh fasilitas HPAL yang beroperasi pada pertengahan 2025 diperkirakan menghasilkan sekitar 57 juta ton tailing per tahun. Beberapa sumber air di sekitar kawasan tambang juga dilaporkan tercemar kromium heksavalen, zat yang dikenal dapat memicu kanker.

Kajian Komnas HAM pada 2026 juga menyoroti dampaknya bagi warga. Di Morowali, Sulawesi Tengah, tercatat 57.190 kasus infeksi saluran pernapasan akut yang terkonsentrasi di sekitar kawasan industri pengolahan nikel.

Kajian yang sama mencatat pembukaan hutan di kawasan tambang meningkat dari sekitar 3.566 hektare pada 2016 menjadi 11.355 hektare pada 2020.

Ironisnya, banyak smelter nikel juga mengandalkan listrik dari PLTU batu bara milik sendiri. Pada 2025, sektor pengolahan nikel diperkirakan menggunakan lebih dari 81 TWh listrik, dan lebih dari 94% di antaranya berasal dari batu bara.

Perlu dicatat juga bahwa tidak semua baterai mobil listrik memakai nikel. Baterai jenis LFP (lithium iron phosphate), misalnya, tidak menggunakan nikel sama sekali.

Bagaimana Nasib Limbah Baterai Bekas Mobil EV?

Setelah bertahun-tahun dipakai, baterai mobil listrik akan mengalami penurunan kapasitas. Kementerian Lingkungan Hidup memperkirakan umur pakai baterai kendaraan listrik sekitar lima hingga delapan tahun. Jika adopsi mobil listrik terus tumbuh cepat, puncak limbah baterai diperkirakan terjadi sekitar tahun 2040.

Dari sisi aturan, Indonesia sebenarnya sudah punya dasar hukum. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 9 Tahun 2024 menggolongkan baterai litium maupun nonlitium sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang wajib ditangani secara khusus. Masalahnya ada pada pelaksanaan di lapangan.

Fasilitas daur ulang baterai kendaraan listrik di Indonesia juga masih dalam tahap rencana. Indonesia Battery Corporation (IBC) memperkirakan investasi industri daur ulang baru akan dieksekusi pada 2029 atau 2030, tergantung ketersediaan baterai bekas. Proyek yang disiapkan di Halmahera Timur ditargetkan berkapasitas 20.000 ton logam per tahun.

IBC juga mendorong aturan yang mewajibkan produsen baterai menarik kembali baterai bekasnya, sehingga limbah ini bisa diperlakukan sebagai sumber daya.

Kabar baiknya, baterai bekas tidak harus langsung dibuang. Baterai yang kapasitasnya menurun masih bisa dipakai ulang untuk penyimpanan energi di rumah atau pendukung panel surya.

Secara teknis, hampir semua komponen baterai juga bisa didaur ulang. Dalam skala global, IEA memperkirakan daur ulang baterai berpotensi memenuhi 10% hingga 20% kebutuhan litium dan nikel, serta lebih dari 30% kebutuhan kobalt pada 2050.

Jadi, Mobil Listrik Layak Dipilih atau Tidak?

Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Data menunjukkan mobil listrik tetap menghasilkan emisi seumur pakai yang lebih rendah, bahkan di negara yang masih bergantung pada batu bara.

Namun, manfaat lingkungannya baru terasa maksimal jika listrik nasional semakin bersih, tambang nikel dikelola dengan bertanggung jawab, dan sistem daur ulang baterai berjalan dengan baik.

Kalau kamu sudah memiliki atau berencana membeli mobil listrik, ada beberapa langkah yang bisa membuat pilihanmu lebih ramah lingkungan. Gunakan kendaraan selama mungkin agar utang emisi dari baterai benar-benar terbayar. Jika memungkinkan, isi daya dengan listrik dari panel surya di rumah.

Saat baterai sudah tidak layak, serahkan ke bengkel atau dealer resmi agar ditangani sesuai aturan limbah B3. Yang tidak kalah penting, pilih kendaraan sesuai kebutuhan, karena mobil yang lebih kecil dengan baterai lebih kecil juga berarti jejak lingkungan yang lebih ringan.

Kesimpulan

Mobil listrik memang lebih ramah lingkungan dibanding mobil bensin jika dilihat dari emisi sepanjang umur pakainya. Utang emisi dari produksi baterai biasanya lunas dalam sekitar dua tahun pemakaian.

Namun di Indonesia, manfaat ini masih tertahan oleh listrik yang didominasi batu bara, dampak tambang nikel di hulu, serta ancaman limbah baterai yang sistem daur ulangnya belum siap.

Dengan kata lain, mobil listrik bukan solusi ajaib, tetapi langkah maju yang perlu diikuti perbaikan di sisi energi, pertambangan, dan pengelolaan limbah. Sebagai konsumen, kamu juga punya peran untuk memakai dan merawatnya secara bijak.

Ingin tahu lebih banyak tentang isu lingkungan dan langkah nyata yang bisa kamu lakukan untuk menjaga bumi? Yuk, kunjungi aksilingkungan.id dan jadi bagian dari gerakan peduli lingkungan.(***)

Referensi

  1. Jejak Kata. (2026, 31 Oktober). Penjualan mobil listrik melonjak 112 persen, ada tantangan di baliknya. https://www.jejakkata.news/2026/10/31/penjualan-mobil-listrik-melonjak-112-persen-ada-tantangan-di-baliknya/
  2. International Energy Agency. (2026). Do electric cars reduce emissions overall? Dalam Global EV Outlook 2026. https://iea.blob.core.windows.net/assets/26adc87c-daee-4de2-954e-f3f0fa9adfee/Doelectriccarsreduceemissionsoverall.pdf
  3. Bui, A. (t.t.). Why electric vehicles are already much greener than combustion engine vehicles. International Council on Clean Transportation. https://theicct.org/why-evs-are-already-much-greener-than-combustion-engine-vehicles-jul25/
  4. Kabar Bursa. (2026, 15 Oktober). Edisi khusus dua tahun Prabowo-Gibran: Transisi energi masih terjerat batu bara. https://www.kabarbursa.com/ekonomi-hijau/edisi-khusus-dua-tahun-prabowo-gibran-transisi-energi-masih-terjerat-batu-bara
  5. Gerbang Patriot. (2026, 9 Oktober). Baterai bekas mobil listrik jadi tantangan baru, pakar UMY dorong daur ulang dan second life. https://gerbangpatriot.com/2026/10/09/baterai-bekas-mobil-listrik-jadi-tantangan-baru-pakar-umy-dorong-daur-ulang-dan-second-life/
  6. International Council on Clean Transportation. (2023, September). Comparison of the life-cycle greenhouse gas emissions of combustion engine and electric passenger cars and two-wheelers in Indonesia. https://theicct.org/publication/comparison-life-cycle-ghg-emissions-combustion-engine-and-electric-pv-and-2w-indonesia-sept23/
  7. TrenAsia. (2026, 7 Agustus). Paradoks kendaraan listrik: Produk hijau yang ancam hutan tropis. https://www.trenasia.id/tren-global/paradoks-kendaraan-listrik-produk-hijau-yang-ancam-hutan-tropis
  8. Lahay, S. (2026, 8 April). Risiko limbah beracun dari smelter nikel Indonesia. Mongabay Indonesia. https://mongabay.co.id/2026/04/08/risiko-limbah-beracun-dari-smelter-nikel-indonesia/
  9. Mongabay Indonesia. (2026, 8 Mei). Kajian Komnas HAM sebut kawasan industri nikel korbankan lingkungan dan kesehatan. https://mongabay.co.id/2026/05/08/kajian-komnas-ham-sebut-kawasan-industri-nikel-korbankan-lingkungan-dan-kesehatan/
  10. Muliawati, F. D. (2026, 2 Februari). IBC siap garap proyek daur ulang baterai EV di 2030. CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/news/20260202191557-4-707548/ibc-siap-garap-proyek-daur-ulang-baterai-ev-di-2030
  11. International Energy Agency. (2026). Will more electric vehicles mean more mining? Dalam Global EV Outlook 2026. https://iea.blob.core.windows.net/assets/195db8eb-81f9-42b0-8dc8-bb5951ffaeb6/Willmoreelectricvehiclesmeanmoremining.pdf

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini