
Aksilingkungan.id – Pulau Sumatera dilanda bencana banjir bandang dan longsor yang belum pernah terjadi sebelumnya pada akhir November hingga awal Desember 2025, dalam skala sebesar ini.
Menurut data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 4 Desember 2025, total korban meninggal dunia mencapai 776 jiwa, dengan rincian korban di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).
Selain itu, 463 orang masih dinyatakan hilang, ribuan terluka, dan lebih dari 3,3 juta orang terdampak di 49 kabupaten/kota (BNPB, 2025a; CNBC Indonesia, 2025; Tirto.id, 2025). Banjir yang melanda Pulau Sumatera ini terjadi bukan hanya akibat cuaca ekstrem, tapi juga akibat dari kerusakan lingkungan yang telah berlangsung puluhan tahun.
Bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, tragedi banjir Sumatera menjadi pengingat untuk kembali pada ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang kerusakan di bumi akibat ulah tangan manusia.
Dalam artikel ini, kita akan membahas harmonisasi antara penjelasan sains dan agama untuk memahami dan mencegah bencana serupa agar tidak terjadi di kemudian hari.
Dari perspektif sains, penyebab utama banjir dan longsor di Sumatera adalah kombinasi antara faktor alamiah dan antropogenik atau akibat aktivitas manusia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa siklon tropis KOTO di Laut Sulu dan bibit siklon 95B di Selat Malaka memicu curah hujan ekstrem mencapai 150-460 mm dalam 24 jam yang mana setara dengan hujan dua bulan (BMKG, 2025; Okezone, 2025).
Hujan lebat tersebut menyebabkan banjir bandang di dataran rendah dan longsor di lereng gunung dengan kemiringan lebih dari 35 derajat. Para ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan bahwa tanpa deforestasi massal, dampaknya tidak akan separah ini (BRIN, 2025a; Liputan6, 2025).
Data dari Global Forest Watch (GFW) menunjukkan bahwa Sumatera Utara saja telah kehilangan 1,6 juta hektare hutan sejak 2001 hingga 2024, dengan laju deforestasi rata-rata 70.000-80.000 hektare per tahun (Global Forest Watch, 2025a, 2025b). Secara nasional, Indonesia kehilangan 32 juta hektare tutupan pohon dari 2001 hingga 2024, dengan Sumatera menyumbang porsi besar karena ekspansi perkebunan sawit, tambang ilegal, dan pembukaan lahan (Global Forest Watch, 2025c; Katadata, 2025).
Hutan yang hilang berarti hilangnya kemampuan tanah menyerap air karena akar pohon yang seharusnya menahan erosi kini digantikan oleh lahan gundul yang mudah longsor. Analisis citra satelit BRIN mengonfirmasi bahwa 62% titik longsor terjadi di bekas konsesi sawit dan tambang, di mana vegetasi hilang mengurangi daya serap air hingga 40% (BRIN, 2025b). Fenomena ini diperburuk oleh perubahan iklim, di mana La Niña 2025-2026 diprediksi membuat curah hujan 40% lebih tinggi dari rata-rata (BMKG, 2025).
Dari sudut pandang agama khususnya Islam, bencana ini bukan hanya sekedar “takdir buta” yang tak bisa dijelaskan atau dicegah. Al-Qur’an secara eksplisit memperingatkan tentang kerusakan lingkungan akibat perbuatan manusia.
Dalam Surah Ar-Rum ayat 41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Kementerian Agama RI, 2019). Ayat tersebut menekankan bahwa bencana adalah konsekuensi dari tindakan manusia, bukan semata-mata hukuman tanpa sebab yang jelas dari Tuhan.
Demikian pula, Surah Al-A’raf ayat 56: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya” (Kementerian Agama RI, 2019). Ayat tersebut merupakan ayat yang berisi larangan langsung terhadap perusakan lingkungan, yang dalam konteks modern termasuk deforestasi dan eksploitasi alam berlebihan.
Konsep “mizan” atau keseimbangan dalam Surah Ar-Rahman ayat 7-9 menggambarkan bagaimana Allah menciptakan alam dengan harmoni yang sempurna, dan manusia sebagai khalifah fil ardh atau pemimpin di bumi dalam Surah Al-Baqarah ayat 30, bertanggung jawab menjaganya. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 04 Tahun 2014 tentang Pelestarian Lingkungan Hidup menyatakan bahwa kerusakan lingkungan yang menyebabkan bencana ekologis adalah haram, karena melanggar amanah khalifah (Majelis Ulama Indonesia, 2014).
Harmonisasi sains dan agama terlihat jelas di sini. Sains menjawab bagaimana mekanisme fisik seperti hujan ekstrem dan longsor, sementara agama menjawab mengapa hikmah moral dan tanggung jawab etis manusia sangat penting bagi kelangsungan hidup bumi.
Konsep ecological imbalance dalam sains setara dengan mizan yang rusak karena israf atau pemborosan manusia. Misalnya, data GFW tentang hilangnya hutan primer basah Indonesia sebanyak 4,365 juta hektare pada tahun 2002-2024 langsung berkorelasi dengan ayat Ar-Rum:41, di mana kerusakan darat dan laut adalah buah ulah tangan manusia (Global Forest Watch, 2025c).
Tragedi di Sumatera bukanlah yang pertama kali terjadi. Tsunami Aceh pada tahun 2004 yang merenggut lebih dari 230.000 jiwa, serta banjir besar di Kalimantan Selatan pada 2021, menunjukkan pola yang serupa yaitu kerusakan lingkungan dan hilangnya hutan turut memperbesar dampak bencana. Namun, dari peristiwa-peristiwa kelam ini, masih ada secercah harapan, yakni kemungkinan untuk berubah melalui pendekatan yang lebih menyeluruh.
Dari sisi sains, berbagai lembaga merekomendasikan langkah konkret, seperti penghentian sementara izin tambang dan perkebunan di wilayah rawan, percepatan program reboisasi, serta pemanfaatan teknologi geospasial untuk memetakan dan memantau area berisiko. BNPB merekomendasikan moratorium izin tambang dan sawit di 184 zona rawan, reboisasi 260.000 hektare per tahun, dan penggunaan teknologi geospasial BRIN untuk pemetaan (BNPB, 2025b).
Melalui sudut pandang agama, masyarakat diajak untuk melakukan refleksi dan taubat kolektif melalui pemanfaatan zakat dan wakaf bagi pemulihan lingkungan, menyuarakan pesan pelestarian alam melalui khutbah dan majelis ilmu, serta menanamkan kesadaran ekologis di masjid dan pesantren dengan mengintegrasikan nilai-nilai keimanan dan ilmu pengetahuan.
Pada akhirnya, banjir Sumatera adalah alarm dari alam dan Tuhan. Sains memberi data untuk mitigasi, agama memberi etika untuk perubahan hati. Jika kita abaikan harmoni ini, kerusakan akan berulang. Masih ada waktu untuk bertindak dan memulihkan bumi, mulai dari donasi melalui PMI atau BNPB, dukung kebijakan hijau, dan introspeksi sebagai khalifah. Wallahu a’lam bish-shawab. (***)
Daftar Pustaka
BNPB. (2025a). Data dan informasi bencana Indonesia. https://bnpb.go.id
BNPB. (2025b). Rekomendasi mitigasi bencana hidrometeorologi 2025. https://bnpb.go.id
BRIN. (2025a). Gugus tugas penanggulangan banjir Sumatera. https://www.liputan6.com/news/read/6225205
BRIN. (2025b). Analisis citra satelit longsor Sumatera 2025. https://koran-jakarta.com/2025-12-01/brin-dukung-penanggulangan-banjir-dan-longsor-di-sumatera-dengan-teknologi-dan-riset
BMKG. (2025). Peringatan dini cuaca ekstrem & siklon tropis KOTO. https://bmkg.go.id
CNBC Indonesia. (2025, 3 Desember). Update: 753 orang tewas akibat banjir bandang & longsor di Sumatra. https://www.cnbcindonesia.com/news/20251203113556-4-690631
Global Forest Watch. (2025a). Tree cover loss Indonesia 2001–2024. https://www.globalforestwatch.org/dashboards/country/IDN/
Global Forest Watch. (2025b). Sumatera Utara deforestation dashboard. https://www.globalforestwatch.org/dashboards/country/IDN/32/
Global Forest Watch. (2025c). Primary forest loss Indonesia. https://www.globalforestwatch.org
Katadata. (2025). Infografik banjir dan longsor Sumatera. https://katadata.co.id/infografik/692fc837eec0e
Kementerian Agama RI. (2019). AlQName’an dan terjemahan resmi. Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id
Majelis Ulama Indonesia. (2014). Fatwa MUI No. 04 Tahun 2014 tentang pelestarian lingkungan hidup. https://mui.or.id
Okezone. (2025, 26 November). Cuaca ekstrem di Sumut akibat siklon tropis KOTO. https://news.okezone.com/read/2025/11/26/340/3185983
Tirto.id. (2025, 4 Desember). Update terbaru jumlah korban meninggal banjir Sumatera Utara & Sumatera Barat. https://tirto.id/update-terbaru-jumlah-korban-meninggal-banjir-sumatera-utara-sumatera-barat-hari-ini-4-desember-2025-hnax
Penulis : Muhammad Muhaimin
Editor: Rosaa

Muhammad Muhaimin merupakan mahasiswa UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan







Cak Imin