Beranda Pertanian Ekonomi Sirkular dan Pertanian Berkelanjutan

Ekonomi Sirkular dan Pertanian Berkelanjutan

161
0
Ekonomi sirkular menjadi kunci menuju pertanian berkelanjutan. Kurangi pupuk kimia, manfaatkan sumber daya lokal, dan wujudkan pangan tangguh. (Sumber: Freepik)
Ekonomi sirkular menjadi kunci menuju pertanian berkelanjutan. Kurangi pupuk kimia, manfaatkan sumber daya lokal, dan wujudkan pangan tangguh. (Sumber: Freepik)

Aksilingkungan.id – Dunia bergerak menuju paradigma baru dalam pengelolaan sumber daya. Jika dulu kita terbiasa dengan pola ambil–pakai-buang, kini banyak negara mulai menerapkan prinsip ekonomi sirkular.

Prinsip ini menggunakan pendekatan pemanfaatan kembali, perbaikan dan daur ulang. Dan sekarang semakin relevan dalam berbagai sektor, termasuk pertanian. Tentu ini bagian dari upaya menuju pertanian berkelanjutan.

Pasca revolusi hijau di era orde baru, petani kita dituntut untuk meningkatkan produksi. Caranya dengan menggunakan bibit unggul, pupuk kimia, pestisida dan sistem irigasi yang baik. Namun, apakah ini tidak meninggalkan problem di kemudian hari? 

Berkembangnya industri benih hibrida, pupuk dan pestisida kimia yang hanya digunakan sekali pakai membuat petani kita merubah pola bertaninya, yang awalnya menggunakan benih lokal sekarang menggunakan benih hibrida. Selain itu, penggunaan kotoran hewan atau pengomposan saat ini beralih ke pupuk kimia.

Maka dengan pertanian berkelanjutan, petani kita akan dituntut untuk memfokuskan pada keseimbangan antara produksi yang besar, lingkungan yang lestari dan petani yang lebih sejahtera.

Manfaat untuk Lingkungan dan Ekonomi

Ekonomi sirkular memastikan jika sumber daya yang terpakai sejatinya dapat menciptakan nilai ekonomi baru. Misal dalam konteks pertanian, penyediaan sarana produksi pertanian (saprotan) yang selama ini terus dibeli petani dapat diubah.

Mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dengan beralih ke kompos bukan hanya menyehatkan tanah, tapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi petani.

Produk turunan lainnya seperti energi biogas dan pakan alternatif dari pemanfaatan sumber daya bisa jadi cara juga. Sehingga petani bukan hanya akan swasembada di bidang pangan, tapi juga bisa swasembada di bidang energi.

Sistem Pangan Tangguh

Pangan yang lebih sehat dan bergizi dihasilkan dari sebuah inovasi pertanian. Berdasarkan data, hanya sekitar 15% petani di Indonesia yang sudah menerapkan praktik pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Selain itu, menurut Aliansi Organis Indonesia lahan pertanian organik di Indonesia baru berkisar 50.000 hektar atau 0,2 persen dari total lahan pertanian di Indonesia. Itupun masih didominasi komoditas seperti kopi dan hanya 18.000 hektar digunakan untuk komoditas sayur.

Padahal ini merupakan momen kita bersama untuk sama-sama terlibat dalam meningkatkan gizi bagi anak-anak Indonesia. Seharusnya, program Makan Bergizi Gratis dapat memprioritaskan produk-produk dari praktik pertanian berkelanjutan.

Karena itu, penting juga bagi kita untuk mulai mendukung produk lokal yang dihasilkan dari praktik pertanian berkelanjutan. Agar lebih sehat dan mendorong generasi yang lebih tangguh. *

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini