Aksilingkungan.id – Apakah kamu pernah dengar potongan lirik “tongkat kayu dan batu jadi tanaman” lagu Kolam Susu milik Koes Plus? Lirik itu menggambarkan Indonesia sebagai negeri yang subur dan makmur. Tapi di belahan dunia lain, tepatnya Arab Saudi yang didominasi gurun luas dengan curah hujan rata-rata hanya 100 mm per tahun.
Namun, itu tidak menjadi masalah untuk negeri seperti Arab Saudi. Geliat pertanian di sana terus tumbuh. Pertanian di Arab Saudi menjadi yang cukup produktif untuk beberapa komoditas seperti kurma, sayur dan buah.
Medio tahun 1980-1990, Arab Saudi bahkan menjadi produsen gandum terbesar. Namun, dikarenakan membutuhkan air bawah tanah yang besar, maka produksinya dihentikan. Lalu bagaimana dengan Pertanian di Arab Saudi saat ini?
Produksi Komoditas Pertanian di Arab Saudi
Arab Saudi memang salah satu penghasil kurma terbesar di dunia. Mereka bersaing dengan Mesir. Data tahun 2024, Arab Saudi menghasilkan lebih dari 1,9 juta ton.
Selain menjadi produsen, Arab Saudi juga sebagai eksportir dengan tujuan ke 119 negara dengan nilai lebih dari 390 juta US dollar pada tahun 2023.
Tingkat swasembada kurma di negara yang dipimpin Raja Salman bin Abdul Aziz ini juga fantastis, antara 119-124 persen.
Bukan hanya kurma, sayur dan buah juga menjadi komoditas yang cukup bisa diandalkan. Produksi lokal sayur di Arab Saudi menyuplai sekitar 80,6 persen dan buah menyuplai 63,7 persen kebutuhan dalam negeri mereka pada tahun 2023.
Optimalisasi Teknologi
Pertanian di Arab Saudi menggunakan berbagai teknologi untuk menyelesaikan problem. Irigasi pivot (center-pivot irrigation) salah satunya. Hal ini digunakan untuk mengoptimalisasi penggunaan air dalam mendukung produksi.
Kebutuhan air menjadi permasalahan utama dalam produksi pertanian di Arab Saudi. Bahkan total penggunaan air untuk pertanian menjadi yang terbesar di angka 67-85 persen.
Selain itu penggunaan IoT, sensor dan Artificial Intelligence (AI) digunakan untuk mendukung smart farming. Optimalisasi hidroponik dan green house juga digunakan untuk meminimalisir keterbatasan lahan subur.
Semua ini dilakukan Arab Saudi sesuai dengan visi mereka di 2030 (Saudi Vision 2030) untuk mencapai ketahanan pangan dan efisiensi penggunaan air di negeri mereka.
Jika Arab Saudi bisa, kita juga seharusnya bisa. *







