Aksilingkungan.id – Bagi kita yang hidup di Jakarta, polusi dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Tapi bagaimana dengan negara-negara ini? Laporan dari IQAir, sebuah perusahaan teknologi yang berfokus pada bidang kualitas udara merilis daftar negara dengan kualitas udara terburuk di dunia.
Perusahaan asal Swiss ini mengukur berdasarkan konsentrasi rata-rata tahunan PM2.5 (Particulate Matter 2.5). Partikel ini berukuran kecil, sehingga mampu dihirup ke paru-paru bahkan hingga masuk ke aliran darah.
Menurut panduan World Healt Organization (WHO) ambang batas aman PM2.5 tahunan sebesar 5 mikrogram/m3. Dan jika kita menghirup partikel tersebut dapat menyebabkan penyakit pernapasan seperti asma hingga penyakit kardiovaskular.
Berikut adalah daftar negara dengan kualitas udara terburuk di dunia pada tahun 2024.
1. Chad
Negara di Afrika Tengah ini memiliki nilai PM2.5 tahunan paling tinggi pada tahun 2024. Nilainya mencapai 18 kali dari ambang batas yang ditetapkan WHO.
Negara yang berbatasan dengan Niger, Sudan, Nigeria dan Kamerun memiliki nilai PM2.5 sebesar 91,8. Hal ini tidaklah mengagetkan karena negara tersebut beriklim gurun.
Berdasarkan data dari WHO, kematian di Chad akibat polusi udara pada tahun 2019 mencapai 241 orang per setiap 100.000 penduduk. Kematian ini disebabkan akibat polusi di dalam ruangan yang disebabkan pembakaran kayu atau arang untuk memasak.
Selain itu juga disebabkan karena polusi luar ruangan akibat debu, pembakaran terbuka maupun kendaraan.
2. Bangladesh
Jika Chad menduduki posisi teratas, maka di Asia Selatan situasinya tak kalah mengkhawatirkan. Bangladesh menempati posisi kedua dengan kualitas udara terburuk.
Kepadatan penduduk menjadi salah satu faktor mengapa Bangladesh secara konsisten memiliki kualitas udara yang buruk. Lebih dari 170 juta penduduknya tersebar di kota-kota seperti Dhaka, Gazipur dan Chittagong.
Meski pada tahun 2024, nilai PM2.5 menurun jika dibanding dengan tahun sebelumnya. Namun, nilainya masih jauh dari ambang batas WHO.
Pada tahun 2024 nilai PM2.5 berkisar pada 78.0 mikrogram/m3. Meningkatkan ruang terbuka hijau dan regulasi lingkungan yang ketat untuk kendaraan dan industri di Bangladesh bisa menjadi salah satu cara untuk menekan polusi yang tinggi.
3. Pakistan
Tidak berbeda dengan di Bangladesh, Pakistan juga menjadi salah satu negara dengan pkualitas udara yang buruk. Berdasarkan IQAir, nilai PM2.5 nya mencapai 73.7 mikrogram/m3.
Industri bata (brick kilns) menjadi salah satu penyumbang polusi udara. Pakistan memiliki sekitar 20.000 tungku pembuatan batu bata yang menghasilkan PM2.5. Hal ini dikarenakan masih melakukan pembakaran menggunakan batubara, ban bekas, karet hingga limbah.
Bahkan dalam sebuah riset dijelaskan jika brick kilns berkontribusi sebesar 11% terhadap total partikel tersuspensi di Peshawar, sebuah kota di Pakistan.
4. Republik Demokratik Kongo
Sama halnya dengan negara lainnya, Kongo juga memiliki nilai PM2.5 yang tinggi. Rata-rata tahunan pada 2024 sebesar 58.2.
Tentu ini disebabkan karena penggunaan bahan bakar padat dalam rumah tangga, pembakaran biomassa, dan juga disebabkan oleh industri seperti halnya di kota besar seperti Kinshasa
5. India
Selain keempat negara tersebut, India juga tak luput dari daftar merah kualitas udara dunia. Negara dengan penduduk terbesar di dunia ini juga mencatatakan sebagai negara yang memiliki kualitas udara yang buruk.
Pada tahun 2024 kondisi PM2.5 tahunan mencapai 50.6 mikrogram/m3. Meski mengalami penurunan jika dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 54.4 mikrogram/m3.
Tingginya nilai PM2.5 juga disebabkan oleh aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar, industri, pemanas/masak rumah tangga, dan transportasi.
Data ini menunjukkan jika kualitas udara yang baik masih menjadi tantangan global. Upaya kolektif, baik kebijakan lingkungan maupun kesadaran publik, menjadi kunci memperbaiki udara yang akan kita hirup. *







